Siswa Kelas 6 SDN Maccini I/1 Meninggal Diduga Akibat Perundungan, Polrestabes Makassar Selidiki Kasusnya

istock

MAKASSAR – SEORANG siswa kelas 6 Sekolah Dasar Negeri (SDN) Maccini I/1 di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Sulawesi Selatan, meninggal dunia diduga akibat perundungan oleh teman-teman sekolahnya. Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Makassar saat ini tengah menyelidiki kasus tersebut.

Kepala Polrestabes Makassar, Komisaris Besar Arya Perdana, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari rumah sakit mengenai meninggalnya korban bernama Muhammad Raja Afnan. Ia juga menyampaikan rasa duka cita yang mendalam kepada keluarga korban.

“Kami menyampaikan rasa turut berduka cita pada keluarga korban. Laporan dari rumah sakit sudah kami terima, dan korban juga telah dimakamkan oleh pihak keluarga,” kata Arya.

Penyebab pasti kematian Muhammad Raja Afnan masih menunggu hasil autopsi dari tim dokter forensik Polda Sulsel. Hal ini dilakukan untuk memastikan apakah kematiannya berkaitan langsung dengan dugaan penganiayaan atau disebabkan oleh faktor lain.

“Apakah kematiannya karena penganiayaan teman atau bukan, itu harus dipastikan lewat hasil autopsi. Hanya dokter yang bisa menyatakan penyebab kematian secara medis,” jelas Arya.

Meskipun demikian, Arya menyebut bahwa pihak keluarga melaporkan adanya bekas lebam di tubuh korban. Namun, lebam tersebut masih perlu ditelusuri lebih lanjut untuk menentukan apakah berkaitan dengan penyebab kematian atau tidak.

Saat ini, penyidik Polrestabes Makassar telah memeriksa sejumlah saksi dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Dugaan sementara menunjukkan bahwa pelaku yang terlibat dalam perundungan terhadap korban berjumlah lebih dari dua orang.

“Pelakunya diduga lebih dari dua orang, tetapi kami belum bisa memastikan karena masih dalam proses penyelidikan dan pemeriksaan,” ungkap Arya.

Desma, 45, tante korban, mengungkapkan bahwa sebelum keponakannya meninggal, ia sempat dikeroyok di depan sekolahnya satu minggu lalu. “Pelakunya ada tiga, satu siswa SMP dan dua siswa SD,” ungkapnya.

Kasus ini menjadi perhatian serius, dan diharapkan dapat segera terungkap untuk memberikan keadilan bagi korban dan keluarganya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *