Inovasi Mematikan Hizbullah: Drone FPV Bunuh Diri Teror Pasukan Israel di Malam Hari

Drone Bunuh Diri Hizbullah FPV Bikin Tentara Israel Ketakutan
Ilustrasi drone Hizbullah. (AFP)

Jakarta, Wartana.com – Milisi Hizbullah di Lebanon telah mengembangkan drone bunuh diri FPV (First-Person-View) yang sangat efektif dan menimbulkan ketakutan di kalangan pasukan darat Israel (IDF). Drone-drone ini, yang awalnya diproduksi dengan biaya rendah, kini mampu menghujam sasaran secara presisi, bahkan dalam kegelapan malam, menyusul insiden mematikan yang menewaskan sejumlah tentara Israel dalam beberapa hari terakhir.

Serangan drone FPV ini dilaporkan pertama kali berhasil menewaskan personel IDF pada Sabtu (30/5) malam, menghantam posisi Brigade Givati di Ashkelon dan menewaskan Sersan Michael Tyukin. Esok harinya, Minggu (31/5) malam, drone serupa secara presisi menyerang komando Maglan IDF di Rosh HaAyin, menewaskan Sersan Adam Tzarfati. Tak hanya itu, pada hari yang sama di siang hari, Kapten Dr. Ori Yosef Silvester dari Batalyon Shaked Brigade Givati juga tewas dalam serangan serupa. Seorang prajurit pengintai Givati mengungkapkan kekagetannya, “Sangat tidak lazim bahwa drone menyerang pasukan di malam hari. Hal itu belum pernah terjadi pada tim tempur sebelumnya.” Militer Israel sangat khawatir bahwa Hizbullah telah melengkapi drone FPV tersebut dengan sistem termal serat optik, memungkinkan operasi efektif di malam hari meskipun penambahan komponen dapat mempengaruhi berat dan manuver drone.

Meski demikian, penilaian awal IDF menunjukkan bahwa drone FPV yang digunakan dalam insiden-insiden tersebut belum tentu dilengkapi sistem termal. Namun, militer Israel tetap menanggapi ancaman ini dengan sangat serius. Seorang pejabat militer Israel menyatakan, “Kemajuan kurva pembelajaran terus meningkat, dan bukan hanya dengan drone. Mereka meningkatkan akurasi tembakan mereka setiap saat. Itulah mengapa kami mencoba untuk terus bergerak sebanyak mungkin, baik di zona keamanan di sepanjang Garis Kuning maupun selama operasi manuver, daripada tetap statis.” Pertempuran antara IDF dan Hizbullah kini digambarkan sebagai “pertempuran adaptatif,” di mana Hizbullah terus mempelajari taktik IDF dan meningkatkan kemampuan mereka dari waktu ke waktu.

Media Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa Hizbullah berhasil meningkatkan kemampuan drone FPV mereka menggunakan optik serat yang beroperasi di perbatasan. Drone-drone ini, yang relatif murah, menjadi pilihan senjata utama bagi kelompok yang didukung Iran, menawarkan alternatif rudal jarak jauh atau RPG. Sistem ini dirakit dan dimodifikasi di bengkel-bengkel di Lebanon selatan dengan menambahkan komponen seperti roda pendaratan, kamera, dan muatan bahan peledak. Peningkatan signifikan terletak pada penggunaan kabel serat optik fisik yang menghubungkan drone langsung ke stasiun kendali operatornya, memungkinkannya menjangkau target hingga 10 kilometer tanpa bergantung pada sinyal radio yang rentan dideteksi atau diganggu sistem peperangan elektronik Israel. Kemampuan serupa telah terbukti efektif dalam perang Rusia-Ukraina.

Untuk menghadapi ancaman ini, IDF secara signifikan memperluas penggunaan jaring pelindung dan memperketat prosedur deteksi serta pencegatan drone FPV. Militer juga telah mengurangi penggunaan peralatan teknik berat seperti ekskavator dan buldoser yang rentan menjadi sasaran. Perluasan operasi ke wilayah Beaufort bertujuan mempersulit Hizbullah meluncurkan drone FPV ke komunitas warga Israel di sepanjang perbatasan utara.

Ketakutan akan serangan drone FPV terutama pada malam hari telah menimbulkan frustrasi besar di kalangan militer Israel. Para tentara yang terluka dan rekan-rekan mereka mengungkapkan kekhawatiran mendalam. “Lima belas orang telah tewas selama apa yang seharusnya menjadi gencatan senjata, padahal sebenarnya tidak ada gencatan senjata,” ujar seorang tentara saat mengunjungi temannya yang terluka. Ia menambahkan spekulasi, “Mungkin drone Hizbullah sekarang memiliki kamera termal baru dan mereka benar-benar dapat melihat pergerakan pasukan kami.” Pejabat militer Israel berharap dalam waktu dekat akan ada perubahan signifikan dalam menghadapi ancaman ini, terutama bagi penduduk di Israel utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *