Analisis Pakar: AS Kalah dalam Perang Melawan Iran, Ancaman Nuklir Israel Jadi Sorotan

Pakar Beber AS Kalah, Khawatir Israel Pakai Bom Nuklir ke Iran
Ilustrasi. Foto: AFP/-

Jakarta, Wartana.com – Sejumlah pakar dan spesialis di Amerika Serikat (AS) secara kompak menilai bahwa AS telah mengalami kekalahan strategis dalam perang melawan Iran. Penilaian ini, yang dipaparkan dalam konferensi tahunan ke-11 Arab Center di Washington DC pada Jumat (10/4), menyoroti kekhawatiran serius akan potensi Israel menggunakan kekuatan nuklir terhadap Teheran jika meyakini Iran telah mengembangkan kemampuan tersebut.

Profesor John Mearsheimer, seorang ilmuwan politik dari Universitas Chicago, dalam sesi pembukaan konferensi tersebut, secara tegas menyatakan bahwa arah konflik saat ini mengindikasikan kekalahan bagi Amerika Serikat dan Israel, terutama pasca-kontrol Iran atas Selat Hormuz. Mearsheimer menjelaskan, Israel memiliki tiga tujuan strategis utama di Timur Tengah: memperluas perbatasan ke wilayah seperti Tepi Barat dan Jalur Gaza, melakukan pembersihan etnis di area yang didudukinya, serta memastikan negara-negara tetangga tetap lemah.

Mearsheimer melanjutkan, Israel menjalankan tujuan-tujuan ini melalui dua cara: mempertahankan negara tetangga seperti Yordania dan Lebanon agar tunduk kepada AS, serta melemahkan negara-negara besar seperti Suriah, Iran, dan Turki. Agresi Israel di Gaza, menurutnya, adalah contoh upaya mencapai tujuan pertama, yang kemudian berkembang menjadi genosida karena ketahanan rakyat Palestina. Ia juga menyoroti keterlibatan AS yang jelas dalam kampanye ini, didorong oleh kepentingan strategis tinggi di Timur Tengah, khususnya minyak, dan lobi Israel yang kuat.

Mengenai Iran, Mearsheimer memaparkan bahwa Israel bertujuan menghancurkan negara tersebut dengan memecahnya menjadi entitas terpisah, atau mendorong perubahan rezim pro-AS. Ia menambahkan, Israel memandang Iran sebagai ancaman eksistensial dan kemungkinan besar akan menggunakan kekuatan nuklir jika yakin Teheran memiliki kemampuan tersebut, suatu tindakan yang sulit dicegah oleh Washington akibat kuatnya lobi Israel. Iran, di sisi lain, saat ini dinilai memenangkan perang telak berkat kendalinya atas Selat Hormuz, yang memberinya kemampuan untuk mengganggu perdagangan global dan memicu konsekuensi ekonomi parah, termasuk potensi kelangkaan pupuk dan krisis pangan dunia.

Melihat kendala-kendala ini, Mearsheimer menyimpulkan bahwa Donald Trump tidak dapat meningkatkan eskalasi lebih lanjut. Mengakui kekalahan mungkin menjadi satu-satunya pilihan bagi Trump di tengah tekanan dunia. Ia juga memperingatkan, jika Trump tetap ingin menghancurkan peradaban Iran, tindakan tersebut dapat dianggap sebagai “genosida” dan dapat dimintai pertanggungjawaban internasional. Carrie Dann dari Cook Political Report turut menambahkan, perang di Timur Tengah ini berdampak signifikan pada pemilihan paruh waktu AS, dengan mayoritas warga AS tidak setuju dengan konflik tersebut karena kekhawatiran terhadap harga bahan bakar, tekanan ekonomi, dan korban jiwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *