Iran Tegaskan Kesepakatan Damai dengan AS Belum Final, Bantah Klaim Trump

Iran Tegaskan Kesepakatan Damai dengan AS Belum Final
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei. Foto: AFP/ATTA KENARE

Jakarta, Wartana.com – Iran secara tegas membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan bahwa kesepakatan damai antara kedua negara dapat ditandatangani paling cepat akhir pekan ini. Meskipun negosiasi telah menyelesaikan sebagian besar isi teks, Teheran menekankan belum ada kesimpulan akhir yang tercapai.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa negaranya tidak akan berkompromi pada “garis merah” yang telah ditetapkan. “Kami belum mencapai kesimpulan akhir mengenai masalah ini,” kata Baghaei, seperti dikutip oleh kantor berita Reuters. Ia menambahkan bahwa isu krusial ini masih dalam peninjauan oleh badan-badan pembuat keputusan yang relevan di Iran.

Sebelumnya, dari Gedung Putih, Presiden Trump mengatakan kepada wartawan bahwa pihaknya telah mencapai penyelesaian besar dalam perang dengan Iran. Ia bahkan mengklaim Selat Hormuz akan dibuka kembali secara resmi segera setelah kesepakatan ditandatangani, yang ia perkirakan “mungkin segera, sangat segera, mungkin akhir pekan ini di Eropa.” Trump juga mengklaim Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei telah menyetujui kesepakatan tersebut.

Klaim Trump mengenai kesepakatan damai ini muncul setelah laporan pembatalan serangan militer terencana Amerika Serikat terhadap Iran. Sejak pertengahan Maret, Presiden Trump memang telah berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan ini semakin dekat. Namun, setelah gencatan senjata pada April lalu, kedua belah pihak kembali melancarkan serangan langsung pekan ini, menunjukkan ketegangan yang masih tinggi.

Dalam negosiasi, Trump menekankan bahwa setiap kesepakatan damai harus memastikan Iran tidak dapat mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang selalu dibantah oleh Teheran. Sementara itu, Iran menuntut pencabutan sanksi internasional, pelepasan aset beku senilai miliaran dolar, serta pengakuan atas kendalinya terhadap Selat Hormuz sebagai syarat utama kesepakatan. Perkembangan negosiasi ini akan terus dipantau mengingat dampaknya yang signifikan terhadap stabilitas regional dan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *