Jakarta, Wartana.com – Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke sejumlah situs militer di Iran, termasuk lokasi peluncuran rudal dan markas komando intelijen, pada Kamis (7/5) waktu setempat. Serangan ini terjadi di tengah periode gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati oleh kedua belah pihak.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melaporkan bahwa serangan tersebut menargetkan fasilitas vital seperti lokasi peluncuran rudal dan drone, pusat komando dan kendali, serta pusat intelijen, pengawasan, dan pengintaian Iran. Menurut pernyataan CENTCOM, operasi ini merupakan respons pertahanan diri setelah pasukan Iran mencegat dan meluncurkan sejumlah rudal, drone, serta kapal kecil saat tiga kapal perusak rudal Angkatan Laut AS—USS Truxtun (DDG 103), USS Rafael Peralta (DDG 115), dan USS Mason (DDG 87)—melintasi Selat Hormuz menuju Teluk Oman pada tanggal yang sama. “Tidak ada aset AS yang terkena serangan,” tegas CENTCOM. Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya menambahkan bahwa serangan terjadi di beberapa lokasi, termasuk Bandar Abbas dan Qeshm.
Konfrontasi terbaru ini menambah daftar insiden yang menguji gencatan senjata yang dimulai sejak 8 April. Sebelumnya, pada Rabu (6/5), militer AS juga melumpuhkan kapal tanker berbendera Iran, M/T Hasna, di perairan internasional Teluk Oman dengan menembakkan amunisi dari jet tempur ke kemudi kapal. AS mengklaim kapal tersebut melanggar blokade Washington. Menanggapi situasi ini, Komandan Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine menyatakan dalam konferensi pers sebelumnya, “Sejak gencatan senjata dimulai, Iran telah melakukan provokasi lebih dari sepuluh kali terhadap pasukan kami. Kami bertindak tegas untuk melindungi kepentingan dan personel kami, namun tetap berupaya mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.”
Di sisi lain, juru bicara angkatan bersenjata Iran membantah klaim AS dan menuduh Washington melanggar gencatan senjata. Ia menyatakan bahwa serangan udara AS menghantam daerah sipil di sepanjang pantai Pulau Qeshm, Bandar Khamir, dan Sirik. “Tindakan Amerika Serikat yang menargetkan kapal tanker minyak kami dan menyerang daerah sipil adalah pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata,” ujarnya. Juru bicara tersebut juga mengakui bahwa pasukan Teheran telah menyerang kapal-kapal militer AS di sebelah timur Selat Hormuz dan selatan pelabuhan Chabahar sebagai respons atas agresi tersebut.
Kedua negara telah terlibat dalam baku tembak dalam beberapa hari terakhir, meskipun gencatan senjata seharusnya berlaku. Insiden terbaru ini menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas regional dan masa depan kesepakatan damai yang rapuh di Timur Tengah.









