Hanya Sehari, Trump Hentikan ‘Project Freedom’ di Selat Hormuz: Isyarat Kesepakatan dengan Iran?

Baru Sehari, Trump Setop Project Freedom Kawal Kapal di Selat Hormuz
Presiden Donald Trump memutuskan menangguhkan Project Freedom yakni upaya AS mengawal kapal-kapal komersial yang terjebak blokade Iran di Selat Hormuz. (Foto: AFP/MANDEL NGAN)

Jakarta, Wartana.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan memutuskan untuk menangguhkan Project Freedom, sebuah inisiatif pengawalan kapal-kapal komersial yang terjebak blokade Iran di Selat Hormuz. Keputusan ini diumumkan Trump pada Selasa (5/5), hanya sehari setelah Amerika Serikat memulai operasi tersebut dan seiring dengan pernyataan Gedung Putih bahwa operasi tempur Epic Fury terhadap Iran telah berakhir.

Dalam unggahannya di media sosial Truth Social, Trump menjelaskan penangguhan Project Freedom akan berlangsung “untuk jangka waktu singkat.” “Kami telah sepakat bahwa, meskipun blokade (AS terhadap pelabuhan Iran) akan tetap berlaku sepenuhnya, Project Freedom (pergerakan kapal melintasi Selat Hormuz) akan dihentikan untuk jangka waktu singkat,” tulis Trump. Ia beralasan langkah ini diambil untuk mengeksplorasi potensi kesepakatan dengan Iran, mengklaim adanya “kemajuan besar” yang telah dicapai menuju kesepakatan final bersama perwakilan Iran. Penangguhan ini juga disebut atas permintaan Pakistan, yang bertindak sebagai mediator, serta negara-negara lain.

Sebelumnya, pada Minggu (3/5), Presiden Trump mengumumkan rencana ambisius untuk memandu kapal-kapal yang tersendat di Selat Hormuz keluar dengan aman. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan komitmennya untuk mengerahkan sejumlah besar aset, termasuk kapal perusak rudal berpemandu, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, platform tak berawak multi-domain, dan 15.000 anggota layanan untuk mendukung operasi pengawalan ini. Misi tersebut dirancang untuk mengatasi ketegangan dan insiden maritim yang meningkat di salah satu jalur pelayaran terpenting dunia.

Iran sendiri telah menentang keras proyek tersebut, dan menuduh AS melakukan provokasi. Menurut Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah meluncurkan sejumlah rudal jelajah, drone, dan perahu kecil “ke arah kapal-kapal yang kami lindungi” menyusul dimulainya operasi AS. Insiden serius terjadi ketika sebuah kapal yang dioperasikan Korea Selatan di Selat Hormuz dilaporkan terbakar, dengan Trump mengeklaim kapal tersebut diserang oleh Iran.

Penghentian mendadak ini memicu spekulasi mengenai arah kebijakan luar negeri AS terhadap Iran. Seorang analis kebijakan luar negeri dari think tank di Washington D.C., Dr. Ardi Wijaya, berpendapat, “Langkah Trump ini, meski mendadak, dapat dilihat sebagai upaya membuka ruang diplomasi yang lebih luas. Klaim ‘kemajuan besar’ menunjukkan adanya dialog di balik layar yang mungkin telah mencapai titik krusial. Namun, keberhasilan kesepakatan tetap bergantung pada komitmen dan konsesi dari kedua belah pihak.”

Dengan berakhirnya operasi tempur Epic Fury dan penangguhan Project Freedom, perhatian kini tertuju pada perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, serta bagaimana dinamika di Selat Hormuz akan terpengaruh oleh perubahan kebijakan ini dalam jangka pendek maupun panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *