Jakarta, Wartana.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan optimisme tinggi terkait potensi tercapainya kesepakatan dengan Iran dalam waktu dekat, menyusul “pembicaraan yang sangat baik” dalam 24 jam terakhir. Namun, di tengah harapan damai tersebut, Trump juga melontarkan ancaman tegas akan “membombardir mereka habis-habisan” jika negosiasi menemui jalan buntu.
Dalam pernyataan kepada wartawan di Gedung Putih pada Rabu (6/5), Trump secara lugas mengatakan, “Sangat mungkin kita akan mencapai kesepakatan.” Keyakinan ini semakin dipertegas saat wawancara dengan PBS, di mana Trump mengungkapkan harapannya bahwa kesepakatan dapat dicapai sebelum perjalanannya ke China yang dijadwalkan pekan depan. “Saya pikir ada peluang sangat bagus untuk ini berakhir,” ujarnya.
Sejalan dengan optimisme Gedung Putih, beberapa sumber, termasuk seorang sumber dari Pakistan, juga mengonfirmasi kepada Reuters bahwa kesepakatan hampir tercapai antara AS dan Iran. Kesepakatan tersebut disebut berupa memorandum satu halaman yang akan secara resmi mengakhiri konflik kedua negara. Memorandum ini diharapkan menjadi pintu pembuka untuk diskusi lebih lanjut mengenai pembukaan Selat Hormuz, pencabutan sanksi AS terhadap Iran, serta penetapan batasan untuk program nuklir Teheran.
Meskipun demikian, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Emaeil Baghaei, memberikan respons yang lebih berhati-hati. Baghaei menampik adanya kemajuan besar dalam pembicaraan dengan Washington, seraya menegaskan bahwa negaranya belum mengeluarkan tanggapan resmi terhadap proposal terbaru dari Amerika Serikat. Sebelumnya, Iran telah menyodorkan proposal berisi 14 poin rencana damai, yang dirancang sebagai tanggapan terhadap usulan AS yang dinilai belum mencakup semua kepentingan Iran. Hingga kini, perbedaan spesifik antara kedua proposal tersebut belum diungkapkan ke publik.
Skeptisisme juga datang dari parlemen Iran. Anggota parlemen sekaligus juru bicara Komite Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional, Ebrahim Rezaei, menilai proposal AS “lebih merupakan daftar keinginan Amerika daripada kenyataan.” Melalui media sosialnya, Rezaei menambahkan, “Amerika tidak akan mendapatkan apa pun dalam perang yang mengalahkan mereka yang belum mereka peroleh dalam negosiasi tatap muka.”









