Di Tengah Ketegangan Perang Iran-Israel, Jemaah Sulsel Tetap Berangkat Umrah

MAKASSAR – DI tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah pascakonflik Iran-Israel yang melibatkan Amerika Serikat, geliat ibadah umrah dari Sulawesi Selatan (Sulsel) justru menunjukkan tren sebaliknya.

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Sulsel mencatat, lebih dari 7.000 jemaah asal provinsi ini telah memberangkatkan diri ke Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umrah selama momen Ramadan tahun ini.

Kepala Kantor Kemenhaj Sulsel, Ikbal Ismail, mengungkapkan bahwa secara umum, pelaksanaan umrah bagi jemaah Sulsel belum berdampak signifikan akibat eskalasi konflik. Faktor kunci yang menjadi penyelamat kelancaran perjalanan mereka adalah rute penerbangan.

“Yang jadi persoalan sebenarnya adalah jemaah kita yang menggunakan penerbangan tidak langsung atau indirect yang transit di bandara-bandara seperti di Dubai atau Qatar. Namun, Alhamdulillah, sebagian besar jemaah kita saat ini menggunakan penerbangan direct (langsung) rute Makassar-Jeddah,” ujar Ikbal saat ditemui usai acara Buka Puasa dan Nuzulul Quran di Aula Arafah Asrama Haji Sudiang, Makassar

Ikbal, yang juga merupakan mantan Kepala Bidang Pelaksanaan Haji dan Umrah Kemenag Sulsel, menjelaskan bahwa animo masyarakat Sulsel untuk beribadah umrah sangatlah tinggi.

Secara reguler, angka keberangkatan mencapai 5.000 hingga 7.000 jemaah setiap bulannya. “Dan puncaknya selalu terjadi di bulan Ramadan. Bulan suci ini menjadi momen dengan tingkat keberangkatan tertinggi, bisa mencapai 7 ribuan jemaah,” ungkapnya.

Meski arus keberangkatan terpantau lancar, Ikbal memastikan bahwa pihaknya terus memantau kondisi jemaah yang tengah berada di Arab Saudi. Data terbaru menunjukkan masih ada 358 jemaah umrah asal Sulsel yang berada di Tanah Suci.

“Kami pastikan kepulangan mereka tidak terganggu. Mereka tetap aman dan kondusif. Yang penting, penerbangannya direct,” tegas Ikbal.

Meski demikian, Kemenhaj Sulsel tidak mengabaikan imbauan pemerintah pusat. Ikbal menambahkan bahwa pihaknya saat ini tengah berkoordinasi dengan para penyedia jasa perjalanan umrah (travel) terkait kebijakan penundaan keberangkatan untuk jemaah baru.

Hal ini menyusul arahan tegas dari Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahniel Azhar Simanjuntak, agar travel menunda pemberangkatan jemaah hingga kondisi keamanan di Timur Tengah benar-benar stabil.

“Sebagaimana arahan Pak Wamen, jemaah yang sampai saat ini belum berangkat diharapkan untuk menunda dulu. Kami memahami teman-teman travel mungkin sudah booking pesawat dan hotel. Untuk itu, kami menyarankan agar jika tetap memaksakan berangkat, pastikan menggunakan penerbangan direct untuk meminimalisir risiko,” pungkas Ikbal. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *