Jakarta, Wartana.com –
Amerika Serikat melancarkan serangan udara dahsyat ke markas militer Iran di Pulau Kharg, dekat Selat Hormuz, menyusul meningkatnya ketegangan antara kedua negara. Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengancam akan menghantam infrastruktur minyak Iran jika navigasi di Selat Hormuz terganggu.
Melalui media sosial Truth, Presiden Trump mengumumkan bahwa Komando Pusat Amerika Serikat telah melakukan “salah satu serangan udara terkuat dalam sejarah Timur Tengah,” yang “menghancurkan habis-habisan setiap sasaran militer” di Pulau Kharg. Pulau ini dikenal sebagai “permata mahkota” Iran, sekaligus pusat utama ekspor minyak mentah negara tersebut.
Meski menargetkan instalasi militer, Trump menegaskan pihaknya sengaja menghindari pengeboman infrastruktur minyak di pulau tersebut. Namun, ia tidak ragu untuk mengubah keputusan itu jika Iran atau pihak manapun berani mengganggu kebebasan dan keamanan pelayaran kapal melalui Selat Hormuz.
Pulau Kharg memiliki posisi strategis sebagai pusat vital ekspor minyak Iran, di mana sebagian besar minyak mentah Iran dimuat sebelum didistribusikan ke pasar global. Serangan AS ini diyakini bertujuan untuk membatasi kemampuan Iran dalam melancarkan serangan rudal terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, mengingat AS menduga Iran menggunakan pulau tersebut untuk kegiatan semacam itu.
Seorang analis keamanan regional, Dr. Hamid Reza, menilai, “Ancaman terhadap infrastruktur minyak di Kharg adalah sinyal serius yang dapat mengguncang pasar energi global secara signifikan. Setiap gangguan di Selat Hormuz, yang menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, akan memiliki dampak ekonomi yang meluas.” Hal ini menyoroti potensi eskalasi konflik yang tidak hanya terbatas pada militer tetapi juga ekonomi.









