Jakarta, Wartana.com – Iran melayangkan kecaman keras terhadap pernyataan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Israel, Mike Huckabee, yang secara terbuka mendukung kontrol Negara Zionis atas seluruh wilayah Timur Tengah, termasuk Tepi Barat yang diduduki.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, melalui platform X pada Jumat (20/2) menyatakan bahwa pernyataan Huckabee adalah “bukti nyata keterlibatan aktif Amerika dalam perang agresi ekspansionis rezim Israel serta genosida kolonial terhadap rakyat Palestina.” Baghaei menambahkan bahwa Teheran mengutuk retorika ideologi ekstrem semacam itu, yang menurutnya hanya akan membuat Israel semakin berani untuk melanjutkan kejahatan dan tindakan ilegal terhadap Palestina, serta agresi terus-menerus terhadap bangsa-bangsa di kawasan.
Pernyataan kontroversial Huckabee muncul dalam wawancara di podcast jurnalis AS, Tucker Carlson, yang dirilis pada hari yang sama. Dalam sesi tersebut, Huckabee berargumen soal Hak Alkitabiah, mengklaim bahwa Israel memiliki hak suci atas tanah yang membentang dari Sungai Nil (Mesir) hingga Sungai Eufrat (Irak). Ia juga mengatakan bahwa “tidak masalah jika mereka (Israel) mengambil semuanya” dan membela aksi militer Israel di Jalur Gaza dengan dasar “ketentuan ilahi”.
Saat Carlson bertanya lebih rinci mengenai wilayah yang dimaksud, Huckabee merujuk pada tafsiran “Greater Israel” (Israel Raya). Istilah ini sering digunakan dalam politik Israel untuk merujuk pada perluasan wilayah yang mencakup Tepi Barat, Gaza, Dataran Tinggi Golan (Suriah), bahkan dalam beberapa tafsiran mencakup Semenanjung Sinai (Mesir) dan sebagian Yordania. Visi ini senada dengan pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kepada saluran i24 pada Agustus lalu, di mana ia mengaku merasa “sangat terikat” dengan visi Israel Raya dan menganggap dirinya sedang menjalankan “misi sejarah dan spiritual” bagi generasi Yahudi.
Klaim Huckabee memicu kekhawatiran diplomatik besar karena melampaui batas negara yang diakui secara internasional. Pernyataan ini diprediksi akan semakin memanaskan situasi di Timur Tengah, terutama di tengah ketegangan yang masih membara antara poros Iran dan aliansi AS-Israel, yang telah lama menjadi faktor destabilisasi di kawasan tersebut.









