Jakarta, Wartana.com – China telah mengerahkan dua kapal perangnya, Baotao dan fregat Tipe 054A Huanggang, ke Samudra Pasifik. Manuver militer ini berlangsung pada Minggu (19/4), sehari sebelum Amerika Serikat, Filipina, dan Jepang memulai latihan militer gabungan besar-besaran bertajuk Balikatan pada Senin (20/4) di dekat Laut China Selatan dan Taiwan, memicu kekhawatiran akan peningkatan ketegangan regional.
Kantor Staf Gabungan Kementerian Pertahanan Jepang melaporkan bahwa kapal-kapal China tersebut berlayar di jalur maritim antara Amami Oshima dan Pulau Yokoate. Komando Teater Timur militer China menyatakan pengerahan kapal perang ini bertujuan untuk menguji kemampuan operasi laut jauh pasukan, sebagai bagian dari latihan rutin sesuai rencana tahunan. “Hal ini sesuai dengan hukum dan praktik internasional, dan tidak menargetkan negara atau entitas tertentu,” ujar Kolonel Senior Xu Chenghua, juru bicara komando, pada Minggu.
Pengumuman publik mengenai pengerahan kapal perang oleh China ini terbilang langka, mengingat Beijing biasanya tidak mempublikasikan latihan militer semacam itu. Beberapa pihak memandang langkah ini sebagai bentuk perlawanan terhadap Jepang, menyusul pelayaran tak biasa kapal perusak Ikazuchi milik Angkatan Laut Bela Diri Jepang di Selat Taiwan yang dipersengketakan pada Jumat (17/4). Beijing telah menganggap tindakan Jepang tersebut sebagai provokatif.
Latihan Balikatan yang melibatkan AS, Filipina, dan Jepang dijadwalkan berlangsung dari 20 April hingga 8 Mei mendatang. Jepang turut berpartisipasi dalam latihan ini dengan mengirim sekitar 1.400 personel, beberapa kapal perang, pesawat, serta sistem rudal anti-kapal Tipe 88. Partisipasi perdana dan skala besar Jepang ini dinilai analis sebagai penanda prioritas Tokyo dalam menekan ancaman China terhadap Taiwan. Kementerian Pertahanan Taiwan sendiri pada Senin juga mengaku mendeteksi kapal induk China Liaoning di Selat Taiwan dan memantau pergerakannya secara ketat.
Hubungan antara China dan Jepang telah memanas setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November lalu menyatakan bahwa militer Jepang dapat mengintervensi apabila terjadi konflik di Taiwan. China secara konsisten mengklaim Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayahnya, sementara Taipei berupaya mempertahankan kemerdekaannya. Beijing berulang kali mengancam akan mengambil kembali Taiwan secara paksa jika diperlukan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers pada Senin, memperingatkan bahwa latihan militer gabungan antara AS, Filipina, dan Jepang sebaiknya tidak memprovokasi negara-negara kawasan, terutama China. Ia menekankan bahwa kerja sama sembrono atas nama keamanan “sama dengan bermain api, yang pada akhirnya akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri.”









