Jakarta, Wartana.com – Iran menyatakan keterbukaannya terhadap segala bentuk dukungan, termasuk dari China, dalam upaya menyelesaikan peperangan dengan Amerika Serikat di Timur Tengah. Namun, di saat yang sama, Teheran secara tegas mengungkapkan rasa ketidakpercayaan mendalam terhadap Washington dalam proses perundingan damai.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan pernyataan tersebut merespons laporan pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Salah satu topik bahasan dalam pertemuan tersebut adalah situasi di Timur Tengah, termasuk pentingnya stabilitas di Selat Hormuz.
“Kami menghargai negara mana pun yang memiliki kemampuan untuk membantu, terutama China,” kata Araghchi kepada wartawan di ibu kota India, di sela-sela pertemuan negara-negara BRICS pada Jumat (15/5). “Kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan China, kami adalah mitra strategis satu sama lain, dan kami tahu bahwa China memiliki niat baik. Karena itu, apa pun yang bisa mereka lakukan untuk membantu jalur diplomasi akan disambut oleh Republik Islam.”
Dalam kesempatan yang sama, Araghchi juga menyoroti hambatan utama Iran dalam proses perundingan dengan AS, yaitu “ketidakpercayaan” terhadap niat Presiden Donald Trump. “Kami meragukan keseriusan mereka (AS). Namun begitu kami merasa mereka benar-benar serius dan siap mencapai kesepakatan yang adil serta seimbang, kami tentu akan melanjutkan proses negosiasi,” tegasnya, seperti dikutip dari Al Jazeera.
Sebelumnya, setelah kunjungan dua harinya di Beijing, Presiden Trump mengklaim bahwa Presiden Xi Jinping telah menawarkan bantuan China untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang saat ini masih diblokade Iran akibat konflik dengan AS sejak 28 Februari lalu. Trump bahkan menyebut Xi Jinping menjamin bahwa China tidak akan mengirimkan peralatan militer untuk membantu Iran dalam perang melawan AS dan Israel. “Ia mengatakan tidak akan memberikan peralatan militer… ia menyampaikannya dengan sangat tegas,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News. Meski demikian, belum ada konfirmasi resmi dari Beijing mengenai pernyataan Xi Jinping tersebut.









