Beban Perang Membengkak, Israel Tarik Amunisi ‘Setengah Abad’ Hadapi Iran

Ngirit Biaya Perang, Israel Pakai Amunisi Jadul Hadapi Iran
Ilustrasi. Militer Israel dilaporkan mulai menggunakan stok lama amunisi-amunisi mereka dalam menghadapi konflik dengan Iran. (AFP/Jaafar Ashtiyeh)

Jakarta, Wartana.com

Militer Israel dilaporkan mulai menggunakan stok amunisi lama, bahkan yang berusia puluhan tahun, dalam konflik yang melibatkan Iran di tengah pembengkakan biaya perang. Langkah ini, yang diungkap oleh lembaga penyiaran publik KAN, diduga diambil untuk menekan pengeluaran militer dan mengosongkan gudang penyimpanan senjata.

Penggunaan amunisi non-presisi yang telah disimpan hingga setengah abad ini mencuat setelah laporan mengenai membengkaknya beban finansial akibat konflik yang terus berlangsung sejak akhir Februari. Publik Israel juga menyuarakan kekhawatiran terhadap implikasi ekonomi dari keterlibatan negara mereka dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Data finansial menunjukkan besarnya beban yang harus ditanggung Israel. Media lokal Haaretz sebelumnya melaporkan bahwa biaya yang dikeluarkan militer dalam 20 hari pertama perang mencapai sekitar US$6,4 miliar, atau setara dengan Rp107,9 triliun (dengan kurs US$1 = Rp16.869). Pemerintah Israel juga telah mengalokasikan tambahan anggaran sebesar US$8,2 miliar (Rp13,9 triliun) untuk pembelian perlengkapan keamanan mendesak, menyusul laporan mengenai menipisnya stok rudal pencegat.

“Keputusan untuk memanfaatkan amunisi lama ini bisa jadi indikasi tekanan anggaran yang signifikan, bukan hanya upaya logistik biasa,” ujar Dr. Amir Cohen, seorang analis pertahanan dari Pusat Studi Strategis Tel Aviv. “Ini juga sejalan dengan kekhawatiran tentang kapasitas produksi dan pengadaan senjata baru yang mungkin tidak secepat kebutuhan di lapangan.” Angkatan darat Israel sendiri disebut sedang bersiap mengajukan tambahan anggaran di luar total biaya perang yang telah mencapai US$12,5 miliar (Rp210,8 triliun).

Konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran, yang eskalasinya dimulai sejak 28 Februari, terus meluas ke berbagai wilayah di Timur Tengah. Serangan tidak hanya menargetkan instalasi militer, tetapi juga fasilitas energi di beberapa negara Teluk. Sejumlah pengamat berpendapat bahwa Iran menerapkan strategi atrisi, bertujuan untuk menguras sumber daya ekonomi lawan melalui perang berlarut-larut tanpa konfrontasi langsung skala penuh, seringkali dengan memanfaatkan kelompok proksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *