Jakarta, Wartana.com – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengirimkan pesan terbuka kepada warga Amerika Serikat dan masyarakat dunia melalui unggahan di media sosial X pada Rabu (1/4). Pesan tersebut bertujuan untuk mengetuk hati dan menjelaskan posisi Iran di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS dan Israel. Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak memusuhi rakyat Amerika, melainkan menentang kebijakan pemerintah AS yang dianggap merugikan negaranya.
Dalam pesannya, Pezeshkian menekankan bahwa Iran, sebagai salah satu peradaban tertua di dunia, tidak pernah memulai perang di era modern. Ia menyatakan bahwa Iran tidak pernah memilih jalur agresi, ekspansi, kolonialisme, atau dominasi, meskipun menghadapi invasi, tekanan, dan intervensi kekuatan global. “Dan meskipun memiliki keunggulan militer atas banyak negara tetangganya, Iran tidak pernah memulai perang. Namun, Iran dengan tegas dan berani telah menolak mereka yang menyerangnya,” tulis Pezeshkian. Ia menambahkan bahwa rakyat Iran tidak memandang bangsa lain, termasuk warga AS, Eropa, atau negara-negara Arab, sebagai musuh, melainkan sebagai prinsip budaya yang mengakar kuat.
Pezeshkian juga mengkritik narasi yang menggambarkan Iran sebagai ancaman global, yang menurutnya dibentuk oleh kepentingan politik dan ekonomi pihak tertentu untuk membenarkan dominasi militer dan tekanan internasional. “Dalam lingkungan seperti itu, jika ancaman tidak ada, maka ancaman itu diciptakan,” ujarnya. Presiden Iran menyoroti kehadiran militer AS yang masif di sekitar wilayah Iran sebagai ancaman, menegaskan bahwa tindakan Iran adalah respons terukur berdasarkan pembelaan diri yang sah, bukan inisiasi perang atau agresi.
Lebih lanjut, Pezeshkian mengulas sejarah hubungan Iran dan AS yang awalnya tidak bermusuhan. Ia menyebutkan titik balik ketidakpercayaan rakyat Iran terhadap Washington dimulai setelah kudeta tahun 1953 yang didukung AS, yang menggagalkan nasionalisasi sumber daya Iran. Ketidakpercayaan ini semakin dalam dengan dukungan AS terhadap rezim Shah, dukungannya terhadap Saddam Hussein selama perang yang dipaksakan pada 1980-an, sanksi terpanjang dalam sejarah modern, dan agresi militer tanpa provokasi. Meskipun demikian, Pezeshkian mengklaim Iran telah berkembang pesat di berbagai sektor seperti pendidikan, teknologi, kesehatan, dan infrastruktur.
Di akhir pesannya, Pezeshkian mengkritik serangan terhadap fasilitas energi dan industri Iran yang dianggap menargetkan warga sipil dan berpotensi memperluas ketidakstabilan global. Ia juga menyinggung peran Israel yang diduga mempengaruhi kebijakan AS terhadap Iran dan mengalihkan perhatian dunia dari konflik Palestina. Pezeshkian menyerukan kepada warga AS dan masyarakat internasional untuk menilai konflik secara objektif dan memilih jalur dialog daripada konfrontasi. “Saat ini, dunia berada di persimpangan jalan. Melanjutkan jalan konfrontasi lebih mahal dan sia-sia daripada sebelumnya,” pungkasnya, mengajak semua pihak untuk memilih keterlibatan demi masa depan generasi mendatang.









