Ketegangan India-Pakistan Jadi Penghalang Integrasi Regional Asia Selatan

Diskusi Bulanan Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Unhas

MAKASSAR – Ketegangan antara India dan Pakistan kembali memanas, terutama terkait perebutan wilayah Kashmir yang telah berlangsung sejak 1947. Dalam konteks ini, Diskusi Bulanan Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Hasanuddin (Unhas) mengangkat tema “Rivalitas India – Pakistan: Persimpangan Antara Strategi Geopolitik dan Ekonomi Politik di Asia Selatan” pada Kamis, 22 Mei 2025.

Diskusi ini dihadiri oleh dua akademisi terkemuka dari Departemen HI FISIP Unhas, Muhammad Nasir Badu, S.IP, MA, Ph.D, dan Ishaq Rahman, S.IP, M.Si. Keduanya membahas dampak konflik bilateral ini terhadap integrasi regional di Asia Selatan, yang menjadi semakin penting di tengah tantangan global saat ini.

Nasir Badu menjelaskan bahwa konflik ini tidak hanya berkaitan dengan perebutan wilayah, tetapi juga mencerminkan rivalitas geopolitik yang lebih luas. “India dan Pakistan memiliki sejarah panjang terkait klaim atas wilayah Kashmir. Jika melihat fenomena ini dari perspektif teori kekuasaan, maka saya menilai kedua negara sebenarnya sedang mengeksiskan rivalitas mereka,” ungkapnya.

Sementara itu, Ishaq Rahman menyoroti perlunya integrasi regional sebagai solusi untuk mengatasi masalah kemiskinan dan ketertinggalan pembangunan di Asia Selatan. “Sayangnya, tren integrasi di Asia Selatan berjalan sangat lambat dibandingkan dengan Asia Tenggara atau Uni Eropa. Penyebab utama kelambatan ini adalah konflik bilateral yang mempengaruhi atmosfer ekonomi politik di kawasan,” jelasnya.

Integrasi regional di Asia Selatan dimulai pada dekade 1980-an, diinisiasi oleh Presiden Bangladesh, Ziaur Rahman. Meskipun gagasan ini didukung oleh negara-negara kecil seperti Nepal dan Bhutan, India dan Pakistan awalnya menolak untuk memasukkan bidang politik dan keamanan dalam kerangka kerja sama. Akibatnya, South Asia Association for Regional Cooperation (SAARC) didirikan pada tahun 1985 tanpa memasukkan isu-isu tersebut.

Dalam situasi konflik yang berkepanjangan, jalannya integrasi di Asia Selatan menjadi terhambat. Tanpa adanya diskusi mengenai politik dan keamanan, ruang untuk mencari solusi atas isu Kashmir menjadi sangat terbatas.

Diskusi yang dihadiri hampir seratus peserta ini diakhiri dengan sesi dialog dan tanya jawab, di mana berbagai pandangan terkait dinamika geopolitik dan masa depan integrasi regional di Asia Selatan dibahas secara mendalam.

Dengan tema yang relevan dan mendesak, diskusi ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi para peserta mengenai tantangan dan peluang yang dihadapi Asia Selatan dalam upaya mencapai integrasi yang lebih baik. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *