Maros, Wartana – Inovasi mewarnai pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-XXXIV tingkat Sulawesi Selatan di Kabupaten Maros. Untuk pertama kalinya, cabang kaligrafi digital resmi dipertandingkan, menandai babak baru dalam pengembangan seni Islami berbasis teknologi.
Berbeda dari lomba kaligrafi konvensional, suasana Ruang Pola Kantor Bupati Maros dipenuhi cahaya layar komputer dan aktivitas peserta yang menggunakan stylus pen. Kehadiran cabang ini menjadi simbol adaptasi syiar Islam terhadap perkembangan zaman digital.
Sebelumnya, kaligrafi digital hanya tampil sebagai ekshibisi pada MTQ Nasional di Kalimantan Timur tahun 2024. Kini, di Maros—yang dikenal sebagai Butta Salewangang—cabang tersebut naik status menjadi kategori resmi yang memperebutkan gelar juara.
“Untuk MTQ provinsi di Sulsel, ini yang pertama kali. Kami beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujar Wahyadi Syarifuddin, Kamis (16/04).
Antusiasme peserta pun cukup tinggi. Sebanyak 22 peserta dari kategori putra dan putri turut ambil bagian, bahkan melampaui jumlah peserta saat ekshibisi di tingkat nasional.
Untuk menjaga kualitas dan integritas lomba, panitia menyiapkan sistem penilaian berbasis teknologi. Seluruh perangkat peserta terkoneksi langsung dengan layar dewan hakim, sehingga proses penilaian dapat berlangsung secara transparan.
Panitia juga memastikan setiap karya dibuat dari awal tanpa penggunaan aset instan, sementara sistem penilaian rolling diterapkan untuk menghindari potensi keberpihakan.
Awalnya, lomba direncanakan berlangsung di Pesantren Nahdlatul Ulum. Namun, lokasi dipindahkan ke Ruang Pola Kantor Bupati Maros guna mendukung kebutuhan infrastruktur digital yang lebih memadai.
Setelah melalui tahap penyisihan, para peserta terbaik kini bersiap menghadapi babak final yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (17/04/2026).
“Penilaiannya benar-benar murni dari kualitas karya. Kami ingin juara pertama di cabang baru ini benar-benar menjadi standar bagi kaligrafi digital di masa depan,” pungkas Wahyadi.









