Jakarta, Wartana.com – Arab Saudi dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan yang menargetkan milisi pro-Iran, Hashed Al Shaabi, di Irak pada Rabu (29/7). Riyadh mengklaim operasi militer ini murni ditujukan kepada kelompok pro-Iran sebagai respons atas serangan drone terhadap fasilitas minyak dan infrastruktur vital Arab Saudi, menyusul kebuntuan jalur diplomatik.
Seorang pejabat senior Arab Saudi menjelaskan bahwa operasi tersebut menyasar gudang senjata milisi yang terkait dengan serangan drone sebelumnya. “Serangan militer kami di Irak murni ditujukan kepada kelompok pro-Iran, dan kami menegaskan tidak menargetkan pemerintah maupun rakyat Irak,” ujar pejabat tersebut kepada Al Arabiya. Ia menambahkan, langkah ini diambil setelah seluruh jalur diplomatik dan politik menemui jalan buntu dan setelah Riyadh menahan diri selama beberapa bulan.
Menurut pejabat Saudi tersebut, tindakan milisi yang disokong Iran merugikan kepentingan Irak sendiri serta merusak hubungannya dengan negara-negara Arab dan Islam. Milisi tersebut dituding memanfaatkan wilayah dan sumber daya Irak untuk melancarkan serangan terhadap negara tetangga. Riyadh berkomitmen menjaga hubungan baik dengan Irak dan rakyatnya, dengan menegaskan bahwa operasi ini bertujuan memperlemah kemampuan milisi yang mengancam keamanan Kerajaan serta menyasar infrastruktur sipil dan ekonomi.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa angkatan bersenjata Kerajaan, berkoordinasi dengan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), telah melancarkan serangan presisi terhadap target-target milisi yang didukung Iran di Irak. Otoritas Saudi menyatakan bahwa operasi ini merupakan balasan atas serangan drone yang berhasil dicegat oleh pertahanan udara Kerajaan awal pekan ini, yang menyasar instalasi minyak di Provinsi Timur dan wilayah Riyadh. Pihak Saudi menegaskan kembali bahwa mereka tidak menginginkan eskalasi konflik, namun akan membalas setiap bentuk agresi terhadap negaranya.









