Makassar, Wartana.com – Eks pemain PSM Makassar dan Makassar Utama Galatama, Dany Irawan, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi pembinaan sepak bola usia muda di Makassar dan Sulawesi Selatan. Menurutnya, pembinaan masih jauh dari maksimal akibat disorientasi pada proses serta minimnya dukungan infrastruktur yang memadai. Pernyataan tersebut disampaikan Dany Irawan dalam sebuah diskusi ringan di Jakarta, Selasa (15/09/2026).
Dany Irawan menilai, salah satu akar permasalahan mendasar adalah orientasi yang keliru, di mana kemenangan dan gelar juara kerap dianggap sebagai segalanya. Padahal, aspek proses dalam pengembangan pemain seharusnya lebih diutamakan. “Banyak yang masih menganggap kemenangan dan ilusi juara adalah segala-galanya. Pemahaman seperti inilah kesalahan besar. Harusnya prosesnya dulu yang diutamakan,” jelas Dany.
Akibat dari orientasi yang pragmatis ini, lanjut Dany, banyak pihak yang cenderung memilih pemain berdasarkan performa instan untuk mengejar kemenangan sesaat, alih-alih fokus pada pengembangan talenta dan potensi jangka panjang anak-anak. Hal ini dikhawatirkan dapat melupakan aspek penting dalam pembinaan berjenjang dan berkelanjutan bagi masa depan pesepak bola muda.
Selain disorientasi orientasi, Dany juga menyoroti tata kelola organisasi yang dinilai masih tumpang tindih. Ia mengamati adanya ketidakselarasan peran antara Pengurus Cabang (Pengcab), Asosiasi Provinsi (Asprov), Sekolah Sepak Bola (SSB), dan Dinas Pendidikan. Kondisi ini berimbas pada ketiadaan konsistensi dan keberlanjutan program pembinaan usia muda. Masalah lain yang tak kalah penting adalah tata kelola kompetisi yang berorientasi pada juara, berdampak pada biaya besar namun dengan frekuensi pertandingan yang minim.
Permasalahan terakhir yang disoroti Dany adalah minimnya infrastruktur. Menurutnya, ketersediaan sarana dan prasarana latihan yang memenuhi standar masih sangat kurang dan belum mendapatkan perhatian serius. Oleh karena itu, Dany Irawan mengusulkan solusi dengan mengajak para pemangku kepentingan untuk mengubah orientasi pembinaan, menempatkan proses sebagai prioritas utama dibandingkan sekadar gelar juara. Ia juga menekankan pentingnya perbaikan infrastruktur, dengan memprioritaskan penyediaan beberapa lapangan latihan yang memenuhi standar internasional di Makassar dan Sulawesi Selatan.









