Dari Pengusaha Jadi Wali Kota,  Inilah Hj Naili Trisal, Perempuan Pertama yang Siap Pimpin Kota Palopo

WARTANA, PALOPO — Dari seorang ibu rumah tangga dan pengusaha, Hj Naili Trisal kini bersiap mengemban tanggung jawab baru sebagai Wali Kota Palopo. Langkahnya menembus dominasi laki-laki dalam sejarah kepemimpinan kota berjuluk ”Kota Idaman” itu mencerminkan perubahan zaman dan kuatnya tekad perempuan dalam politik lokal.

Mahkamah Konstitusi telah memutuskan, menolak gugatan Rahmat Masri Bandaso–Andi Tenri Karta terhadap hasil pemungutan suara ulang (PSU) Pilkada Palopo. Keputusan itu menjadi titik akhir sengketa politik dan awal dari babak baru kepemimpinan.

Di rumahnya, Naili menyambut kabar itu dengan tenang. “Saya hanya ingin mengabdi,” katanya pelan.

Pemilu ulang ini mempertemukan empat pasangan calon. Naili Trisal bersama pasangannya, Akhmad Syarifuddin Daud (Ome), keluar sebagai pemenang dengan perolehan 47.349 suara atau 50,53 persen. Mereka diusung Partai Gerindra dan Partai Demokrat. Kemenangan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa publik Palopo siap menerima pemimpin dari latar belakang nonpolitik, bahkan seorang ibu rumah tangga.

Dari Rumah ke Ruang Publik

Hj Naili Trisal bukan sosok politikus yang lahir dari panggung partai. Ia lebih dikenal sebagai istri Trisal Tahir, yang sempat mencalonkan diri dalam Pilkada namun akhirnya didiskualifikasi. Keputusan Naili untuk maju menggantikan suaminya sempat mengejutkan sebagian kalangan. Namun, dalam perjalanannya, ia membuktikan bahwa kesungguhan dan ketulusan bisa diterima publik.

Dalam kesehariannya, Naili menjalankan usaha dan mengasuh dua anaknya. Anak sulungnya, Raihansya Trisal, kini bekerja di Yunani sebagai manajer armada kapal setelah menyelesaikan studi di Inggris. Anak keduanya, Walter Notteboom, baru saja lulus dari University of Toronto, Kanada.

“Ibu kami bukan hanya figur di rumah. Ia adalah contoh tentang kedisiplinan dan integritas,” kata Raihansya kepada Kompas. Ia mengaku, keputusan ibunya untuk maju dalam pilkada bukan ambisi pribadi, melainkan keinginan melanjutkan mimpi sang ayah untuk menghadirkan Palopo yang lebih baik.

Walter menambahkan, ketangguhan ibunya terlihat sejak mereka kecil. Saat masih berusia 12 tahun, kedua anak itu harus tinggal jauh dari orangtua untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Naili tetap hadir, meski dari jarak jauh, memastikan mereka tumbuh dalam nilai-nilai kuat yang dia pegang.

Sejarah Baru

Selama ini, Palopo selalu dipimpin oleh wali kota laki-laki. Dua nama yang mendominasi adalah HPA Tenriadjeng dan Judas Amir, masing-masing dua periode. Naili akan menjadi pemimpin perempuan pertama yang menduduki jabatan ini.

Langkahnya menjadi simbol perubahan sekaligus harapan. Dengan mengusung tagline “Palopo Baru”, ia berjanji akan membenahi layanan publik, membuka ruang partisipasi, serta memperhatikan sektor pendidikan dan ekonomi kerakyatan.

Bagi Naili, kepemimpinan bukan tentang jabatan. “Ini soal keberlanjutan mimpi dan tanggung jawab kepada masyarakat,” ucapnya.

Warga Palopo kini menanti, seperti apa gaya kepemimpinan ibu rumah tangga yang masuk ke dunia birokrasi. Banyak yang optimistis, karena Naili datang dengan latar belakang yang dekat dengan realitas masyarakat.

“Ia tahu apa yang dirasakan rakyat kecil,” ujar Ramlah, warga Wara Timur, Palopo.

Kini, langkah Hj Naili Trisal dari ruang tamu rumahnya menuju Balai Kota Palopo adalah simbol dari babak baru. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk sejarah kota yang kini terbuka lebih luas bagi pemimpin perempuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *