Trump Ultimatum Iran: Buka Selat Hormuz atau Hadapi ‘Neraka’, Disertai Ucap ‘Alhamdulillah’

Trump Ucap Alhamdulillah saat Desak Iran: Buka Hormuz Atau ke Neraka!
Presiden Donald Trump mengucap 'Alhamdulillah' saat mendesak Iran membuka Selat Hormuz yang masih diblokade Teheran imbas perang dengan AS. (Foto: REUTERS/Nathan Howard)

Jakarta, Wartana.com – Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran, mendesak Teheran untuk segera membuka Selat Hormuz. Ancaman ini disampaikan Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social, pada Minggu (5/4), di tengah ketegangan yang memuncak antara kedua negara.

Dalam serangkaian unggahannya, Trump secara spesifik mengancam akan menggempur fasilitas publik vital di Iran, seperti pembangkit listrik dan jembatan, jika akses Selat Hormuz tidak dibuka. Ia bahkan menggunakan kalimat yang mengejutkan, mengakhiri ultimatumnya dengan ucapan ‘Alhamdulillah’.

“Selasa akan menjadi ‘Hari Pembangkit Listrik’ dan ‘Hari Jembatan’, semuanya digabung menjadi satu di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat sialan itu, brengsek, atau kalian akan hidup dalam neraka. LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah,” tulis Trump. Dalam unggahan terpisah, ia juga menyebut ‘Selasa pukul 20.00 waktu bagian Timur’, yang diinterpretasikan sebagai waktu potensi serangan.

Desakan serupa telah berkali-kali dilontarkan Trump sebelumnya, termasuk pada 26 Maret. Menanggapi ancaman tersebut, para pejabat Iran mengecam keras. Utusan PBB Iran mendesak komunitas internasional untuk bertindak mencegah potensi ‘kejahatan perang’ yang diancamkan oleh mantan Presiden AS tersebut.

“Sekali lagi, presiden AS secara terbuka mengancam akan menghancurkan infrastruktur yang penting bagi kelangsungan hidup warga sipil di Iran,” ujar seorang utusan PBB Iran, Minggu. Ia menambahkan, “Komunitas internasional dan semua negara punya kewajiban hukum untuk mencegah tindakan kejahatan perang yang keji itu. Mereka harus bertindak sekarang.” Iran juga bersumpah akan membalas setiap serangan dari AS maupun sekutunya, Israel.

Kondisi ini merupakan bagian dari konflik yang lebih luas, di mana AS dan sekutunya, Israel, telah melancarkan gempuran terhadap Iran sejak 28 Februari. Operasi militer ini dilaporkan telah menyebabkan ribuan warga sipil tewas dan bahkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan ke Israel dan aset-aset AS di negara-negara Teluk, serta menutup Selat Hormuz.

Penutupan Selat Hormuz, jalur strategis untuk perdagangan minyak global, telah memicu kekhawatiran akan krisis energi di berbagai wilayah. Beberapa negara mulai mengambil langkah mitigasi seperti meminta ASN bekerja dari rumah dan membatasi pembelian BBM. Ironisnya, di samping ancaman kerasnya, Trump juga sempat mengklaim sedang mengupayakan negosiasi gencatan senjata, bahkan menunda rencana gempuran fasilitas energi Iran. Namun, Iran tetap teguh menolak membuka akses Selat Hormuz bagi AS dan afiliasinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *