Kepiting Bakau Sulsel Tembus Pasar Dunia, Perbatasan Maros-Makassar Jadi Titik Ekspor

MAROS, WARTANA – Di sebuah titik perbatasan antara Kabupaten Maros dan Kota Makassar, aktivitas ekonomi bergerak dinamis sejak pagi hari. Deru kendaraan logistik yang melintas di jalan raya tak hanya menandai mobilitas transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari rantai perdagangan komoditas bernilai tinggi, yakni kepiting bakau premium untuk pasar ekspor, Sabtu (7/3/2026).

Wilayah perbatasan ini perlahan berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan kepiting bakau (Scylla serrata) berkualitas premium yang banyak diminati pasar internasional. Komoditas yang kerap dijuluki sebagai “Komoditi Sultan” ini berasal dari tambak-tambak di berbagai wilayah pesisir Sulawesi Selatan seperti Maros, Pangkep, Barru, hingga Bone.

Di sejumlah gudang penampungan yang berada di kawasan tersebut, ribuan ekor kepiting bakau diseleksi dengan ketat sebelum dikirim ke luar negeri. Para pekerja memeriksa ukuran, kekuatan cangkang, hingga kelengkapan capit untuk memastikan kualitasnya sesuai standar ekspor.

“Hanya yang terbaik yang bisa terbang. Kami menyebutnya kualitas sultan—berat minimal tertentu, daging padat, dan capit yang utuh sempurna,” ujar salah satu pengelola gudang penampungan di area perbatasan.

Kepiting yang telah lolos seleksi harus tetap dalam kondisi hidup dan sehat saat dikemas. Hewan tersebut diikat menggunakan tali rafia, kemudian disusun dalam kotak styrofoam dengan pengaturan suhu yang terjaga agar tetap segar selama proses pengiriman.

Jika ditemukan cacat fisik atau kondisi yang tidak memenuhi standar, kepiting tersebut tidak akan masuk dalam kategori ekspor dan hanya dipasarkan di pasar lokal.

Letak kawasan perbatasan Maros dan Makassar yang sangat dekat dengan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin menjadikannya titik transit yang strategis untuk pengiriman komoditas laut ke berbagai negara.

China menjadi salah satu pasar utama bagi kepiting bakau asal Sulawesi Selatan. Permintaan dari negara tersebut terus meningkat, terutama untuk kepiting jantan berukuran besar serta kepiting bertelur yang memiliki nilai jual tinggi.

Di pasar internasional, kepiting bakau dari wilayah ini dikenal memiliki rasa gurih khas dan tekstur daging yang tebal, sehingga menjadi salah satu hidangan premium di berbagai restoran mewah di Asia Timur.

“Istilahnya, pagi masih di lumpur, malam sudah bisa tersaji di restoran mewah di China,” seloroh seorang eksportir sembari memantau proses.

Kehadiran pusat perdagangan kepiting bakau ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Rantai usaha yang terbentuk melibatkan banyak pihak, mulai dari nelayan pencari bibit, petambak, pengepul, hingga pekerja yang menangani proses penyortiran dan pengemasan.

Dengan aktivitas ekspor yang terus berjalan, kawasan perbatasan Maros–Makassar kini bukan hanya sekadar batas administratif wilayah, tetapi juga menjadi gerbang perdagangan komoditas laut Sulawesi Selatan ke pasar global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *