Selat Hormuz Mencekam: Serangan Kapal Meningkat, WNI Terdampak, Harga Minyak Dunia Terancam Meroket

Perang Iran vs AS Masih Panas, Bagaimana Kondisi Terkini Selat Hormuz?
Selat Hormuz menjadi sorotan usai Iran menutup jalur perdagangan ini imbas serangan brutal Amerika dan Israel ke negara Timur Tengah itu sejak 28 Februari lalu. (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)

Jakarta, Wartana.com – Selat Hormuz, jalur maritim vital dunia, kembali menjadi pusat ketegangan menyusul serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial dalam sepekan terakhir. Situasi ini terjadi setelah Iran mengklaim menutup jalur perdagangan tersebut pasca-serangan dari Amerika Serikat dan Israel ke Timur Tengah sejak 28 Februari lalu, memicu kekhawatiran global akan krisis energi dan lonjakan harga minyak.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) melaporkan sembilan serangan di Selat Hormuz dalam sepekan terakhir, empat di antaranya menewaskan total tujuh orang. Pada 2 Maret, kapal Skylight, MKD Vyom, dan Stena Imperative menjadi sasaran. Kemudian, pada 3-4 Maret, empat kapal lain yakni Libra Trader, Gold Oak, Safeen Prestige, dan Sonangol Namibe juga ditabrak. Insiden paling mematikan terjadi pada 6 Maret, ketika ledakan di Kapal Musaffah 2 menewaskan empat orang dan menyebabkan lima Warga Negara Indonesia (WNI) terdampak, dengan tiga di antaranya hilang, satu dirawat setelah tenggelam, dan satu lagi selamat. Perusahaan keamanan maritim Vanguard melaporkan Musaffah 2 dihantam dua rudal saat berupaya membantu kapal kontainer Safeen Prestige yang sebelumnya diserang.

Ketidakpastian ini telah menyebabkan gangguan signifikan pada lalu lintas maritim. Pusat Informasi Maritim Gabungan (JMIC) memperingatkan, “Laporan insiden baru-baru ini menunjukkan kapal-kapal yang memberi bantuan atau operasi penyelamatan ke kapal-kapal yang sebelumnya jadi sasaran mungkin juga menghadapi serangan lanjutan.” JMIC menambahkan bahwa pola serangan tersebut menciptakan ketidakpastian operasional dan menghambat pergerakan komersial rutin. Akibatnya, lalu lintas kapal di Selat Hormuz, yang normalnya mengangkut 20 persen minyak mentah dunia, menurun drastis hingga 90 persen dalam seminggu terakhir. Perusahaan analisis Kpler mencatat hanya sembilan kapal komersial yang terdeteksi melintas, dengan dugaan banyak kapal berusaha menyembunyikan diri agar tidak menjadi target. Goldman Sachs telah mewanti-wanti potensi kenaikan harga minyak global hingga US$100 per barel dalam beberapa hari dan US$150 per barel pada akhir bulan jika situasi tidak membaik, memicu krisis energi di berbagai negara.

Pernyataan mengenai penutupan Selat Hormuz dari pihak Iran masih belum konsisten. Sempat salah satu jenderal Garda Revolusi Iran (IRGC) pada 2 Maret mengancam akan “membakar kapal apa pun” yang mencoba melintasi selat dan memblokir ekspor minyak. Namun, pada 5 Maret, Menteri Luar Negeri Iran Abbad Araghchi menyatakan pemerintah “tak berniat” menutup Selat Hormuz. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menanggapi dengan ancaman keras. “Jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat dua puluh kali lebih keras daripada yang telah mereka alami selama ini,” kata Trump pada Senin, seperti dikutip Anadolu Agency.

Di tengah situasi yang memanas ini, informasi mengenai serangan drone dan rudal seringkali sulit dikonfirmasi segera. Selain itu, identifikasi kapal yang terlibat dan jumlah korban jiwa juga bisa bervariasi, menambah kompleksitas dan ketidakpastian di salah satu jalur pelayaran terpenting dunia ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *