Jakarta, Wartana.com – Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan telah mencapai kesepakatan damai secara lisan, mengakhiri konflik yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Draf kesepakatan ini memuat sejumlah poin utama, termasuk pembukaan akses terhadap miliaran dolar aset Iran yang dibekukan, pelonggaran sanksi ekspor minyak, dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Penandatanganan perjanjian awal diperkirakan akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan, dengan Jenewa, Swiss, sebagai lokasi yang paling mungkin dipilih.
Dalam draf yang diperoleh dari sejumlah sumber, AS akan memulai pencairan aset Iran dan memberikan pelonggaran terhadap sanksi ekspor minyak. Sebagai respons, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelumnya ditutup pasca serangan AS dan Israel pada Februari lalu. Langkah ini diharapkan dapat meredakan ketegangan di kawasan Teluk dan memulihkan stabilitas ekonomi global.
Namun, isu program nuklir Iran masih akan menjadi pembahasan intensif dalam masa negosiasi selama 60 hari ke depan. AS menginginkan pembongkaran program nuklir serta pemusnahan cadangan uranium yang telah diperkaya tinggi, sementara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan pihaknya ingin tetap mempertahankan uranium tersebut dalam bentuk yang telah diencerkan. Araqchi optimistis, “Iran adalah pemenang perang dengan AS,” ujarnya dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran. Seorang pejabat AS juga menambahkan bahwa kesepakatan ini memenuhi tujuan utama Presiden Donald Trump dan menempatkan negosiasi pada posisi yang sangat baik.
Pakistan disebut memainkan peran penting sebagai mediator dalam perundingan ini. Kedua belah pihak telah menyepakati rancangan teks perjanjian. Seorang pejabat senior pemerintahan AS, yang enggan disebutkan namanya, menyatakan, “Kedua pihak telah menyetujui teks tersebut dan kami memperkirakan kesepakatan awal dapat ditandatangani dalam beberapa hari mendatang.” Perkembangan menuju kesepakatan damai ini disambut positif oleh pasar global, dengan harga minyak mentah Brent turun lebih dari 3 persen dan bursa saham dunia menguat.
Meskipun ada kemajuan diplomatik yang signifikan, ketegangan militer di lapangan masih terjadi. Reuters melaporkan bahwa pasukan AS menembak jatuh sejumlah drone bunuh diri Iran yang terbang menuju Selat Hormuz karena dinilai mengancam lalu lintas pelayaran komersial. Komando Pusat AS (CENTCOM) kemudian memastikan jalur pelayaran di kawasan tersebut tetap terbuka. Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya tidak akan menjadi bagian dari kesepakatan tersebut, menyatakan Israel akan tetap mempertahankan kebebasan bertindak terhadap ancaman yang dianggap membahayakan keamanannya.









