TAKALAR – MAHASISWA KKN Tematik Literasi Gelombang 116 dari Desa Panyangkalang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, menggelar program One Story, One Smile di SDN 230 Inpres Garonggong pada 30 Juli 2026 lalu.
Kegiatan ini bertujuan mengasah keterampilan mendengarkan siswa sekaligus mengukur tingkat pemahaman mereka melalui metode membaca nyaring (read aloud) yang interaktif dan memikat.
Dalam pelaksanaannya, para fasilitator membacakan cerita pilihan dengan intonasi, ekspresi, dan jeda yang dirancang matang agar mampu menyihir perhatian para pendengar.
Pendekatan ini dilandasi keyakinan bahwa mendengarkan adalah pilar literasi fundamental yang setara pentingnya dengan kemampuan membaca visual.
Saat menyimak cerita, siswa tidak hanya mendengar, tetapi juga diajak mengaktifkan imajinasi, mencermati alur dengan konsentrasi penuh, serta menyimpan informasi secara simultan dalam memori.
Seusai sesi membaca nyaring, fasilitator mengajukan serangkaian pertanyaan untuk mengukur daya serap siswa. Pertanyaan tersebut mencakup identifikasi tokoh utama, penangkapan pesan moral, hingga upaya menghubungkan isi cerita dengan pengalaman pribadi mereka.
Melalui sesi tanya jawab ini, mahasiswa dapat mengevaluasi efektivitas kegiatan sekaligus memetakan sejauh mana pemahaman narasi yang telah terbangun.
Program One Story, One Smile tidak hanya berorientasi pada pengembangan kognitif, tetapi juga membangun ikatan emosional yang erat antara cerita dan pendengar.
Senyuman yang merekah di wajah siswa, antusiasme mereka dalam merespons pertanyaan, serta ketertarikan tinggi terhadap alur cerita menjadi indikator nyata keberhasilan program dalam menciptakan pengalaman literasi yang menggembirakan dan membekas.
Kegiatan ini merupakan wujud komitmen nyata Mahasiswa KKN Tematik Literasi dalam memperkuat budaya literasi di lingkungan sekolah dasar.
Mereka berharap para siswa memahami bahwa literasi tidak semata tentang kemampuan membaca teks, melainkan juga kecakapan menyimak secara kritis, memahami pesan tersirat, serta mengembangkan daya imajinasi yang produktif.
Pada akhirnya, One Story, One Smile menjadi wahana strategis untuk mencetak generasi pembaca yang tidak hanya fasih mengenal huruf, tetapi juga memiliki kompetensi pemahaman mendalam serta apresiasi kuat terhadap kekuatan magis sebuah cerita dalam kehidupan sehari-hari. []











