TAKALAR – HIRUK-pikuk riang terdengar memenuhi halaman SDN 59 Panyangkalang, Rabu siang. Bukan karena libur, melainkan karena puluhan pasang mata siswa-siswi dari dua sekolah dasar di Desa Panyangkalang sedang bersinar penuh semangat.
Mereka tidak sedang menghadapi ujian, melainkan sedang berlaga di atas panggung kreativitas dalam Festival Karya Literasi, sebuah puncak apresiasi dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 116.
Jika bagi sebagian orang, literasi mungkin hanya soal buku dan teks, namun, bagi mahasiswa KKN Unhas dan 70 lebih siswa di Desa Panyangkalang, literasi adalah sebuah perayaan.
Festival Karya Literasi yang digelar pada Rabu (12/8/2026) menjadi momen epik yang menandai berakhirnya rangkaian program pendampingan yang telah berjalan selama berminggu-minggu.
Lebih dari sekadar kompetisi, festival ini adalah wujud nyata dari perjalanan belajar yang telah dilalui para siswa, sebuah klimaks di mana bakat dan pemahaman mereka dipertunjukkan untuk pertama kalinya di hadapan publik.
*Panggung Kreativitas*
Antusiasme terlihat sejak pagi, ketika siswa-siswi dari SDN 59 Panyangkalang dan SD Inpres 230 Garonggong bersatu membanjiri lokasi acara.
Panitia dari tim KKN merancang tiga kategori lomba yang cerdas, disesuaikan dengan jenjang pendidikan guna mengasah kecerdasan majemuk anak.
– Untuk Si Kecil (Kelas 1-3): Lomba Mewarnai.
Di sini, imajinasi adalah segalanya. Puluhan krayon bergerak lincah di atas kertas, mengubah sketsa hitam-putih menjadi lautan warna-warni yang bercerita tentang mimpi mereka.
– Untuk Si Tangguh (Kelas 4-6): Lomba Membaca Nyaring.
Ini bukan sekadar tes membaca. Ini adalah panggung public speaking pertama mereka. Dengan suara lantang dan ekspresi menggebu, para siswa bergantian membacakan teks, menunjukkan bahwa mereka berani bersuara dan percaya diri.
– Untuk Si Pemikir (Kelas 4-6): Lomba Mengulas Buku.
Ini adalah tantangan tertinggi. Siswa tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan bacaan, tetapi juga menggali pesan moral, menceritakan kembali dengan kata-kata mereka sendiri, dan membuktikan bahwa mereka adalah pembaca kritis yang mampu menyerap ilmu lalu mengolahnya menjadi pandangan.
*Soal Keberanian*
Suasana festival berlangsung penuh semangat dan sportivitas. Sorak-sorai dukungan dari teman-teman sebaya mewarnai setiap sesi, terutama saat peserta yang paling pemalu pun berani melangkah maju ke depan kelas.
Bagi mahasiswa KKN, inilah hadiah terbesar. “Kami tidak hanya melihat nilai, tetapi melihat perubahan sikap. Ada anak yang sebelumnya diam di kelas, kini tampil dengan percaya diri membacakan cerita,” ujar salah satu anggota tim KKN.
*Harapan di Balik Layar*
Penanggung jawab kegiatan, Putri Allyana, menyampaikan bahwa festival ini adalah hasil dari kolaborasi panjang yang tidak mudah.
“Kami ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menunjukkan bahwa literasi itu menyenangkan. Ini bukan ujian, ini adalah panggung mereka. Kami berharap melalui apresiasi ini, mereka melihat membaca dan berkarya bukan sebagai beban, tetapi sebagai kemampuan keren yang bisa mereka banggakan,” tuturnya. []











