Jakarta, Wartana.com – Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ancaman serius akan mengebom jembatan dan pembangkit listrik di Iran, termasuk yang berada di ibu kota Teheran. Ancaman ini dilontarkan apabila kapal-kapal di Selat Hormuz kembali diserang. Pernyataan tersebut diunggah Trump melalui platform Truth Social pada Rabu (22/7), menyusul eskalasi ketegangan antara Washington dan Teheran.
Dalam unggahannya, Trump secara eksplisit menyatakan, “Mulai sekarang, setiap kali Republik Islam Iran menembaki kapal di Selat Hormuz, baik itu dengan rudal, roket, drone, perangkat atau senjata lainnya, Amerika Serikat akan membom dan menghancurkan SATU JEMBATAN ATAU PEMBANGKIT LISTRIK, termasuk yang terletak di dekat, atau di, Ibu Kota Teheran.” Ancaman ini dinilai lebih spesifik dibandingkan pernyataan serupa sebelumnya, yang seringkali mengacu pada pemusnahan peradaban atau infrastruktur energi Iran secara umum.
Ketegangan antara AS dan Iran memuncak kembali setelah Iran menembaki sejumlah kapal di Selat Hormuz pada awal bulan ini. Amerika Serikat menuduh Iran melanggar nota kesepahaman (MoU) yang telah disepakati pada Juni. Di sisi lain, Iran mempertahankan bahwa serangannya sah karena kapal-kapal tersebut dianggap melanggar rute pelayaran yang telah ditetapkan oleh Teheran.
Menanggapi ancaman tersebut, Kepala Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Majid Mousavi, telah mengeluarkan peringatan balasan. Ia menegaskan bahwa jika pembangkit listrik Iran diserang, Teheran akan membalas dengan menyerang pembangkit listrik negara-negara Arab yang dianggap bersekutu dengan AS. “Jika jembatan dan pembangkit listrik kami diserang, pemadaman listrik bagi sekutu dan tuan rumah para pembunuh anak-anak sudah pasti terjadi,” ujar Mousavi, seperti dikutip Al Jazeera.
Insiden serangan terbaru AS ke Iran umumnya menargetkan wilayah pesisir. Sebagai respons, Iran membalas dengan melancarkan serangan terhadap berbagai situs militer AS di seluruh Timur Tengah. Eskalasi retorika dan tindakan ini menambah kekhawatiran akan semakin tidak stabilnya kawasan Timur Tengah yang telah tegang.










