Kunjungan Budaya Santri MA Sultan Hasanuddin, Menelusuri Jejak Sejarah

GOWA — DI tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, sekelompok santri dari Madrasah Aliyah Sultan Hasanuddin Gowa memutuskan untuk menjelajahi jejak sejarah yang terpendam di tanah kelahiran mereka.

Pada Kamis, 17 April 2025, mereka melaksanakan kunjungan budaya yang membawa mereka melintasi tiga kabupaten/kota: Kabupaten Gowa, Kota Makassar, dan Kabupaten Maros. Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan biasa; ini adalah sebuah pencarian makna yang mendalam.

Ketua pelaksana kegiatan, Muhammad Sadiq, menjelaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Rahmatan Lil’alamin (P5RA). Dengan tema “Kearifan Lokal: Asal Usul Nenek Moyang,” kegiatan ini bertujuan untuk menggali kembali nilai-nilai yang telah membentuk identitas mereka sebagai generasi penerus.

Rombongan santri yang terdiri dari puluhan siswa ini didampingi oleh 22 ustadz dan ustadzah pembimbing. Mereka bersemangat menapaki langkah demi langkah menuju dua lokasi bersejarah yang telah ditentukan.

Pertama, mereka mengunjungi Makam Sultan Hasanuddin di Katangka, tempat di mana salah satu pahlawan besar bangsa ini beristirahat. Di sana, mereka merasakan aura sejarah yang kental, seolah-olah suara perjuangan Sultan Hasanuddin masih bergema di antara pepohonan yang rindang.

Setelah mengagumi keindahan dan makna yang terkandung di dalam makam, rombongan melanjutkan perjalanan ke Archaeological Park di Leang Leang Maros. Di tempat ini, mereka disuguhkan dengan peninggalan sejarah yang tak ternilai, menggambarkan kehidupan nenek moyang mereka yang telah ada ribuan tahun lalu. Setiap goresan di dinding gua, setiap artefak yang ditemukan, bercerita tentang kehidupan yang penuh perjuangan dan kearifan.

Kepala MA Sultan Hasanuddin, Marwan Ma’ruf, hadir di tengah rombongan dengan penuh kebanggaan. Ia mengapresiasi kegiatan ini, terutama tema P5 yang dipilih oleh peserta didik. “Di saat dunia pendidikan digempur oleh gelombang teknologi yang dahsyat, anak-anak kita masih mau berpikir tentang masa lalu asal usul nenek moyang mereka,” ujarnya dengan nada bangga.

Marwan berharap bahwa jelajah ilmu melalui kegiatan kali ini akan semakin menumbuhkan rasa penasaran para santri. “Semoga semangat keingintahuan mereka semakin membara untuk mengetahui informasi yang nyaris terkubur pada masa lalu,” tambahnya. Ia percaya bahwa kearifan lokal akan semakin menguatkan eksistensi santri sebagai manusia yang beradab dan menghargai nilai luhur nenek moyang.

Di tengah perjalanan, para santri tidak hanya belajar tentang sejarah, tetapi juga saling berbagi cerita dan pengalaman. Mereka berdiskusi tentang bagaimana nilai-nilai yang mereka pelajari dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kunjungan ini bukan hanya sekadar menelusuri jejak sejarah, tetapi juga membangun rasa kebersamaan dan solidaritas di antara mereka.

Setelah itu, rombongan kembali ke Gowa dengan hati yang penuh. Mereka membawa pulang bukan hanya pengetahuan, tetapi juga semangat untuk melestarikan kearifan lokal dan menghargai warisan budaya yang telah ditinggalkan oleh nenek moyang. Kunjungan budaya ini menjadi pengingat bahwa meskipun zaman terus berubah, akar budaya dan sejarah tetap harus dijaga dan dihormati. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *