MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan komitmennya dalam
memperkuat budaya literasi dan pengembangan perpustakaan sebagai gerbang ilmu
pengetahuan masa depan di Kota Makassar.
Hal tersebut disampaikan saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) pada
kegiatan talkshow literasi dalam rangka Hari Buku Nasional Tahun 2026, yang
digelar oleh Perpustakaan Universitas Hasanuddin, Senin (18/5/2026), dengan tema
“Penguatan Budaya Literasi Akademik di Era Transformasi Digital”.
Dispora MKSR
[https://4menit.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-06-at-15.29.58.jpeg]
Hadir pada kesempatan ini, Bunda Literasi Kota Makassar, yang juga bunda PAUD,
Melinda Aksa.
Penuh Haru, Delapan Mahasiswa UNM Akhiri Masa Asistensi Mengajar di SMPN 33
Makassar
[https://4menit.com/penuh-haru-delapan-mahasiswa-unm-akhiri-masa-asistensi-mengajar-di-smpn-33-makassar/]
22 jam
[https://4menit.com/wp-content/uploads/2026/05/ayu-80×80.jpeg]
Dalam paparannya, Munafri menekankan pentingnya membangun ekosistem literasi
yang kuat, dimulai dari lingkungan internal pemerintah.
Dia mendorong aparatur sipil negara (ASN), khususnya pejabat eselon III seperti
kepala bidang (kabid), kepala subbagian (kasubag), hingga kepala dinas (kadis),
untuk menghasilkan karya tulis berupa buku sebagai bagian dari penguatan
literasi dan kontribusi ilmiah.
“ASN harus punya karya. Minimal satu buku yang bisa menjadi pegangan, baik
sebagai referensi maupun bentuk penguatan literasi personal dan institusional,”
ujarnya.
Penarikan KKN UIN Alauddin, Pemkab Luwu Dorong Kolaborasi Kampus dan Masyarakat
[https://4menit.com/penarikan-kkn-uin-alauddin-pemkab-luwu-dorong-kolaborasi-kampus-dan-masyarakat/]
23 jam
[https://4menit.com/wp-content/uploads/2026/05/kkn-iain-80×80.jpeg]
Appi menjelaskan, buku yang ditulis tidak harus bersifat akademik berat,
melainkan dapat disusun dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami oleh pelajar
tingkat SD dan SMP.
Selain itu, kontennya pun diharapkan relevan dengan kehidupan sehari-hari,
seperti pengelolaan sampah, kepedulian terhadap lingkungan dan hewan, hingga
pola hidup di ruang terbatas.
Menurut Munafri, langkah tersebut merupakan strategi konkret untuk menghadirkan
literasi yang aplikatif dan dekat dengan masyarakat.
Jika setiap perangkat daerah mampu menghasilkan satu buku setiap tahun, maka
akan ada sekitar 150 buku baru yang dapat diproduksi oleh Pemerintah Kota
Makassar.
“Buku-buku ini nantinya akan didistribusikan ke sekolah-sekolah, baik negeri
maupun swasta,” tuturnya.
“Saat ini terdapat puluhan SMP dan ratusan SD di Makassar yang membutuhkan bahan
bacaan kontekstual dan mudah dipahami,” sambung politisi Golkar itu.
Lebih lanjut, alumni FH Unhas itu menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor
dalam membangun budaya literasi.
Ia menyebut, penguatan literasi tidak dapat berjalan maksimal tanpa sinergi
antara pemerintah, perguruan tinggi, penerbit, serta seluruh pemangku
kepentingan.
Setiap persoalan pembangunan kota, juga di diskusikan dengan pihak kampus. Dari
sana muncul berbagai perspektif dan solusi.
“Artinya, kolaborasi menjadi kunci dalam membangun kota, termasuk dalam
penguatan literasi,” ungkapnya.
Appi menekankan, peran perpustakaan sebagai ruang asimilasi berbagai disiplin
ilmu dan komunitas. Menurutnya, perpustakaan bukan hanya tempat membaca, tapi
juga memberikan pengetahuan baru.
“Disis lain, perpustakaan menampung buku sebagai jendela dunia menjadi ruang
interaksi intelektual yang mempertemukan beragam gagasan. Karena Perpustakaan
adalah ruang pertemuan berbagai segmen,” jelasnya.
Lebih lanjut, Appi menjelaskan dalam konteks transformasi digital, ia menegaskan
bahwa digitalisasi bukanlah pengganti buku fisik, melainkan jembatan untuk
memperluas akses literasi.
Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara buku cetak dan platform digital
dalam proses pembelajaran.
“Digitalisasi tidak menghilangkan buku teks, tetapi menjadi penghubung menuju
akses yang lebih luas. Kita harus membangun kombinasi yang baik antara
keduanya,” katanya.
Munafri juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota Makassar terus berupaya
menghadirkan perpustakaan daerah yang modern.
Meski menghadapi sejumlah tantangan, pihaknya optimistis dalam waktu dekat
perpustakaan kota dapat menjadi salah satu yang terbaik di Sulawesi Selatan.
Selain itu, melalui Dinas Perpustakaan, berbagai program literasi terus
digalakkan secara rutin, termasuk kegiatan edukasi yang menjangkau langsung
masyarakat hingga ke tingkat kelurahan.
Di akhir penyampaiannya, Munafri mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama
menjaga dan meningkatkan indeks literasi di Kota Makassar yang saat ini termasuk
tinggi di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.
Ia berharap kegiatan literasi yang dilaksanakan tidak berhenti pada seremoni
semata, tetapi mampu menghasilkan dampak nyata dan berkelanjutan bagi
masyarakat.
Lanjut dia, literasi bukan tanggung jawab satu pihak saja. Ini adalah kerja
kolaboratif untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Kami berharap sinergi antara pemerintah, kampus, dan seluruh stakeholder terus
terjalin kuat,” pungkasnya. (*)









