Makassar, Wartana.com – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mendorong Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Makassar untuk aktif menghasilkan karya tulis berupa buku. Penegasan ini disampaikan Munafri saat menjadi pembicara kunci pada talkshow literasi Hari Buku Nasional Tahun 2026 di Perpustakaan Universitas Hasanuddin, Senin (18/5/2026), sebagai upaya memperkuat fondasi literasi dan pengembangan perpustakaan di Makassar.
Dalam kesempatan tersebut, Munafri menekankan pentingnya membangun ekosistem literasi yang kuat, dimulai dari lingkungan internal pemerintah. Ia secara spesifik mendorong pejabat eselon III, mulai dari kepala bidang, kepala subbagian, hingga kepala dinas, untuk berkontribusi menghasilkan minimal satu buku. Langkah ini diharapkan dapat menjadi bagian dari penguatan literasi personal dan institusional, serta kontribusi ilmiah bagi pemerintah daerah.
“ASN harus punya karya. Minimal satu buku yang bisa menjadi pegangan, baik sebagai referensi maupun bentuk penguatan literasi personal dan institusional,” ujar Munafri. Ia menjelaskan, buku yang ditulis tidak harus bersifat akademik berat, melainkan dapat disusun dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami oleh pelajar tingkat SD dan SMP. Kontennya pun diharapkan relevan dengan kehidupan sehari-hari, seperti pengelolaan sampah, kepedulian terhadap lingkungan dan hewan, hingga pola hidup di ruang terbatas. Jika setiap perangkat daerah mampu menghasilkan satu buku setiap tahun, diperkirakan 150 buku baru dapat diproduksi oleh Pemerintah Kota Makassar dan akan didistribusikan ke sekolah-sekolah, baik negeri maupun swasta, yang membutuhkan bahan bacaan kontekstual.
Lebih lanjut, Munafri menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun budaya literasi. Menurutnya, penguatan literasi tidak dapat berjalan maksimal tanpa sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, penerbit, dan seluruh pemangku kepentingan. Ia menyebut, diskusi berbagai persoalan pembangunan kota dengan pihak kampus telah memunculkan beragam perspektif dan solusi. Selain itu, ia menekankan peran perpustakaan sebagai ruang asimilasi berbagai disiplin ilmu dan komunitas, bukan hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang interaksi intelektual yang mempertemukan beragam gagasan.
Dalam konteks transformasi digital, Munafri menegaskan bahwa digitalisasi bukanlah pengganti buku fisik, melainkan jembatan untuk memperluas akses literasi. “Digitalisasi tidak menghilangkan buku teks, tetapi menjadi penghubung menuju akses yang lebih luas. Kita harus membangun kombinasi yang baik antara keduanya,” katanya. Pemerintah Kota Makassar juga terus berupaya menghadirkan perpustakaan daerah yang modern dan menggalakkan berbagai program literasi melalui Dinas Perpustakaan. Di akhir penyampaiannya, Munafri mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga dan meningkatkan indeks literasi di Kota Makassar, serta berharap sinergi antara pemerintah, kampus, dan seluruh stakeholder terus terjalin kuat demi mencerdaskan kehidupan bangsa.









