JAKARTA, WARTANA – Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, menekankan pentingnya peran strategis universitas dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, berakhlak, serta mampu menguasai teknologi guna menghadapi tantangan ekonomi dan dinamika global.
Hal tersebut disampaikan Jusuf Kalla saat memberikan sambutan pada peringatan Dies Natalis ke-28 Universitas Paramadina yang digelar di Kampus Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (21/1/2026).
Dalam sambutannya, Jusuf Kalla mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan panjang Universitas Paramadina selama 28 tahun. Ia menilai pencapaian tersebut merupakan hasil kerja keras dan dedikasi para pendiri serta seluruh civitas akademika. Ia mengibaratkan Universitas Paramadina seperti seseorang yang setelah lama “hidup kos-kosan”, akhirnya memiliki rumah sendiri sebagai simbol kematangan dan kemandirian institusi.
“Suatu negara hanya bisa maju dengan kemampuan manusianya. Sumber daya alam saja tidak cukup tanpa sumber daya manusia yang baik, berakhlak, dan berpikir maju,” ujar Jusuf Kalla.
Ia mengingatkan bahwa Universitas Paramadina didirikan pada tahun 1997, berdekatan dengan masa krisis ekonomi nasional 1998. Menurutnya, kondisi ekonomi global dan nasional saat ini menunjukkan sejumlah kemiripan, sehingga diperlukan kewaspadaan dan kebijakan yang tepat agar tantangan ekonomi tidak berkembang menjadi krisis yang lebih besar.
Jusuf Kalla juga menekankan peran perguruan tinggi sebagai pusat pemikiran kritis dan intelektual bangsa. Menurutnya, universitas tidak cukup hanya mencetak lulusan bergelar akademik, tetapi harus melahirkan generasi yang kreatif, inovatif, dan mampu memberikan solusi nyata terhadap persoalan bangsa.
“Kalau kita hanya mengejar gelar, itu tidak cukup. Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang kreatif dan inovatif,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti perkembangan teknologi global yang semakin pesat, khususnya teknologi informasi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Ia menilai masa depan dunia sangat ditentukan oleh kemampuan manusia dalam mengelola teknologi melalui kebijakan dan pemahaman yang tepat.
“Jangan kita dikalahkan oleh teknologi. Kita harus mengendalikan teknologi, dan untuk itu kita harus memahaminya,” kata Jusuf Kalla.
Dalam konteks ketenagakerjaan, Jusuf Kalla menyinggung fenomena tingginya angka lulusan perguruan tinggi yang belum memperoleh pekerjaan layak. Ia menyebut banyak sarjana yang akhirnya bekerja di sektor informal, yang menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan ekonomi.
Oleh karena itu, ia mendorong universitas, termasuk Universitas Paramadina, agar lebih produktif, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan nyata masyarakat dan bangsa. Perguruan tinggi diharapkan menjadi pusat pembentukan karakter, inovasi, dan kepemimpinan intelektual, bukan sekadar tempat mencari ijazah.
Menutup sambutannya, Jusuf Kalla mengajak seluruh civitas akademika untuk terus berkontribusi positif bagi bangsa dan negara, serta menjadi bagian dari solusi di tengah tantangan ekonomi dan politik yang dihadapi Indonesia saat ini.
“Dalam kondisi ekonomi dan politik yang menantang, kita harus menjadi solusi, bukan bagian dari masalah,” pungkasnya. (*)











