TANGSEL, WARTANA – Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla mendorong peran masjid agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan lingkungan dan penggerak ekonomi umat. Hal tersebut disampaikannya saat membuka Silaturahmi Nasional (Silatnas) Perhimpunan Remaja Masjid (PRIMA) DMI di Gedung Pusdiklat Kementerian Agama, Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (5/2/2026).
Dalam sambutannya, Jusuf Kalla menekankan pentingnya peran remaja masjid dalam memakmurkan masjid sekaligus dimakmurkan oleh masjid. Salah satu upaya yang dapat dilakukan, menurutnya, melalui program-program berbasis pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.
“Masjid jangan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Salah satunya dengan menjaga lingkungan dan mendorong kegiatan produktif,” kata Jusuf Kalla.
Ia mencontohkan pemanfaatan air bekas wudhu untuk menyiram tanaman serta pengembangan kebun masjid dengan menanam bibit pohon buah, seperti mangga, jambu, dan tanaman lainnya yang memiliki nilai ekonomi. Menurutnya, langkah tersebut dapat memberikan manfaat ganda, yakni menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Jangan sia-siakan air wudhu. Alirkan untuk kebun di sekitar masjid. Tanam pohon, rawat bersama, dan hasilnya bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.
Jusuf Kalla juga mengaitkan upaya pelestarian lingkungan dengan persoalan banjir yang kerap melanda sejumlah daerah. Ia menilai kerusakan lingkungan, termasuk penebangan hutan dan buruknya pengelolaan sampah, menjadi faktor utama terjadinya bencana banjir. Oleh karena itu, ia mendorong masjid untuk terlibat aktif dalam program penghijauan dan kebersihan lingkungan.
“Banjir itu akibat lingkungan rusak. Masjid harus ikut memperbaiki lingkungan, bukan hanya dengan ceramah, tapi dengan kerja nyata,” tegasnya.
Selain isu lingkungan, Jusuf Kalla turut menyoroti pentingnya penguatan ekonomi umat. Ia menilai masjid memiliki potensi besar sebagai motor penggerak ekonomi dengan membekali masyarakat keterampilan usaha, bukan semata-mata memberikan bantuan konsumtif.
“Jangan hanya memberi sedekah, tapi berikan jalan hidup. Tanamkan budaya produktif agar umat mampu secara ekonomi,” katanya.
Silatnas PRIMA DMI tersebut menjadi momentum penguatan peran remaja masjid sebagai agen perubahan, tidak hanya di bidang keagamaan, tetapi juga sosial, ekonomi, dan lingkungan. Kegiatan ini sekaligus menandai dimulainya program-program PRIMA DMI ke depan yang berorientasi pada pemberdayaan umat dan keberlanjutan lingkungan. (*)











