Jakarta, Wartana.com – Awak kapal induk Amerika Serikat (AS) USS Abraham Lincoln menjadi sorotan setelah insiden perkelahian berujung kematian di tengah pengerahan berkepanjangan di Timur Tengah. Insiden ini dipicu oleh tingkat stres tinggi yang dialami para pelaut dan marinir AS akibat konflik yang tak kunjung usai dengan Iran, bahkan memunculkan laporan adanya tentara yang nekat melompat ke laut.
Kantor berita semi pemerintah Iran, Tasnim, melaporkan bahwa bentrok pecah setelah penasihat kepala Komando Pusat (CENTCOM), Brad Cooper, naik ke kapal induk untuk menanggapi keluhan awak kapal. Namun, alih-alih meredakan situasi, Cooper justru dicemooh dan dilempari botol saat berbicara di hadapan para personel. Konfrontasi kemudian meningkat menjadi perkelahian antar awak yang melibatkan pisau dan senjata tajam, mengakibatkan sejumlah korban tewas. USS Abraham Lincoln telah dikerahkan selama 263 hari dan saat ini beroperasi di Samudra Hindia, dengan 208 hari di antaranya dihabiskan berturut-turut di laut, yang memicu protes dari keluarga personel karena pengerahan yang berkepanjangan.
Kondisi mental para tentara dilaporkan sangat memprihatinkan, dengan banyak yang merasa frustrasi dan ingin segera pulang. “Dia takut. Dia pikir akan diberhentikan secara tidak hormat, dan hanya karena dia kelelahan, kariernya selama 13 tahun hancur begitu saja,” tutur Annabelle Loma, istri seorang tentara yang sempat mencoba melompat ke laut karena kelelahan emosional. Beruntungnya, suaminya diselamatkan dan kini menerima perawatan medis. Keluarga lain, Bonnie York, yang anak tirinya berada di kapal, juga mengungkapkan kekhawatirannya. “Dokter atau terapis kapal mengatakan mereka harus segera berlabuh atau orang-orang akan mulai kehilangan akal sehat,” ujarnya, mengutip laporan dari dalam kapal.
Para keluarga menyebutkan bahwa sebagian besar awak bekerja dalam shift yang sangat panjang dan melelahkan, dengan sedikit atau bahkan tidak ada hari libur. Lingkungan kapal induk, yang padat, bising, dan penuh risiko ledakan atau kecelakaan, menambah tekanan. “Ini sudah menjadi tempat paling berbahaya di dunia, dan sekarang Anda harus bekerja keras, hari demi hari, tanpa istirahat. Ini adalah lingkungan rawan kecelakaan,” kata Brett Snow, ayah dari seorang tentara yang bertugas di USS Lincoln.
Menanggapi laporan tersebut, Juru bicara Armada ke-5 Angkatan Laut, Komandan Joseph Hontz, membantah adanya kerusakan parah pada kapal, termasuk laporan toilet yang tersumbat. Ia juga menegaskan bahwa para personel memiliki akses ke kelas kebugaran, tim kesehatan mental, dan tim pendeta. Hontz menambahkan bahwa personel juga dapat menggunakan internet untuk berkomunikasi dengan keluarga “ketika situasi taktis memungkinkan.”









