Jakarta, Wartana.com – Ketegangan di Timur Tengah kian memanas setelah delegasi Amerika Serikat dan Iran bersitegang dalam rapat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai perjanjian nuklir. Di tengah gejolak diplomatik tersebut, sebuah laporan mengejutkan mengungkapkan Israel secara diam-diam mengirimkan sistem pertahanan rudal Iron Dome ke Uni Emirat Arab (UEA) saat perang dengan Iran. Dinamika regional semakin kompleks dengan penunjukan perdana menteri baru di Irak di bawah tekanan Amerika Serikat.
Perdebatan sengit antara delegasi AS dan Iran terjadi pada Senin (27/4) di PBB. Perselisihan ini dipicu oleh terpilihnya Iran sebagai salah satu wakil presiden dalam konferensi Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (Non-Proliferation Treaty/NPT). Sekretaris Biro Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi AS, Christopher Yaaw, menyatakan bahwa terpilihnya Iran merupakan “penghinaan” terhadap NPT. Menanggapi hal tersebut, Duta Besar Iran untuk Badan Energi Atom Internasional, Reza Najagi, menolak pernyataan AS, menyebutnya “tidak berdasar dan bermotivasi politik”.
Sementara itu, Israel dilaporkan mengirimkan sistem pertahanan Iron Dome ke Uni Emirat Arab (UEA) selama Februari-Maret lalu, saat terjadi potensi konflik dengan Iran. Media Amerika Serikat Axios melaporkan bahwa setelah Presiden UEA Mohammed bin Zayed berbicara melalui telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Israel secara rahasia mengirimkan baterai rudal, rudal pencegat, dan beberapa lusin personel militer ke UEA. Pengiriman ini menandai kelanjutan kerja sama pertahanan antara Abu Dhabi dan Tel Aviv yang telah terjalin sejak normalisasi hubungan pada tahun 2020.
Kondisi politik di Irak juga turut memanaskan situasi regional. Koalisi Syiah Irak, Coordination Framework, telah menunjuk Ali Al Zaidi sebagai calon perdana menteri baru, menyusul ancaman dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pernyataan resmi kepresidenan Irak menyebut, “Presiden Nizar Amedi telah menugaskan Ali Al Zaidi, kandidat dari blok parlemen terbesar, untuk membentuk pemerintahan baru.” Penunjukan ini terjadi setelah Trump secara tegas menolak Nouri Al Maliki, yang dianggap memiliki hubungan dekat dengan Iran, untuk menjadi perdana menteri meskipun menang dalam pemilihan.
Rangkaian peristiwa ini menggarisbawahi semakin runcingnya konflik kepentingan antara kekuatan global dan regional di Timur Tengah. Dari perdebatan nuklir di PBB hingga pengiriman senjata rahasia dan intrik politik di Irak, kawasan ini terus menjadi pusat perhatian dunia, menuntut perhatian serius dari para pemangku kebijakan internasional.









