Gedung Putih Copot Anggota Komisi Agama Usai Pertanyakan Relasi Zionisme-Antisemitisme

Gedung Putih Disebut Pecat Staf Komisi Agama Gegara Tolak Zionisme
Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut pecat anggota komite komisi di Gedung Putih gegara pertanyakan soal ketidaksetujuan terhadap zionisme. (Foto: AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Jakarta, Wartana.com – Anggota Komisi Kebebasan Beragama Gedung Putih, Carrie Prejean Boller, resmi dicopot dari jabatannya. Pemecatan ini terjadi pada Rabu (11/2) setelah Boller secara terbuka mempertanyakan apakah penolakan terhadap paham Zionisme harus disamakan dengan anti-semitisme. Keputusan ini diumumkan oleh Wakil Gubernur Texas yang juga Ketua Komisi Kebebasan Beragama Presiden, Dan Patrick.

Dalam pernyataannya di platform X, Patrick menegaskan, “Tidak ada anggota komisi yang berhak membajak sidang untuk agenda pribadi atau politik. Itulah yang jelas terjadi dalam sidang tentang antisemitisme pada Senin. Ini keputusan saya.” Komisi Kebebasan Beragama Gedung Putih sendiri merupakan badan penasihat federal yang bertugas menelaah ancaman terhadap kebebasan beragama di Amerika Serikat dan memberikan rekomendasi kebijakan terkait perlindungan Amandemen Pertama Konstitusi AS.

Beberapa jam setelah pengumuman Patrick, Boller segera membantah klaim tersebut melalui pernyataan di platform yang sama. Ia menyatakan bahwa hanya Presiden yang berwenang memberhentikan pejabat yang ditunjuk presiden dari komisi itu. “Anda tidak menunjuk saya dan tidak memiliki kewenangan mencopot saya. Ini melampaui peran Anda dan membuat saya yakin Anda bertindak sejalan dengan kerangka politik Zionis yang justru membajak sidang, bukan membela kebebasan beragama,” tulis Boller, menuding Patrick memiliki agenda tersembunyi.

Ketegangan yang memicu pemecatan ini bermula dalam sidang pada Senin, di mana Boller secara terang-terangan mempertanyakan korelasi antara Zionisme dan antisemitisme. “Saya seorang Katolik, dan umat Katolik tidak menganut Zionisme… Jadi apakah semua umat Katolik antisemit menurut Anda?” ujarnya dalam debat. Perdebatan ini kemudian berlanjut dalam dialog dengan Yitzchok Frankel, penggugat utama dalam gugatan federal terkait perkemahan pro-Palestina di University of California Los Angeles. Boller juga mempertanyakan apakah warga AS dapat menolak antisemitisme sekaligus mengkritik perang yang dilancarkan Israel di Gaza tanpa dicap anti-Yahudi atau menolak Zionisme politik.

Boller lebih lanjut berpendapat bahwa Amerika Serikat tidak seharusnya menjadikan kesetiaan pada pandangan teologis tertentu tentang Israel sebagai syarat perlindungan kebebasan berpendapat. Ia mengkritik definisi antisemitisme yang dinilai dapat menyamakan kritik terhadap negara dengan kebencian terhadap agama. Frankel, di sisi lain, menolak argumen tersebut dan menegaskan bahwa aksi protes dilindungi hukum, tetapi tidak boleh berubah menjadi intimidasi atau pengucilan terhadap komunitas Yahudi. Rekaman perdebatan tersebut kini telah tersebar luas di internet, memicu reaksi keras dan kembali memantik diskusi mengenai anggapan penolakan terhadap Zionisme yang seringkali diidentikkan dengan antisemitisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *