Jakarta, Wartana.com – Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melancarkan serangan baru ke Iran pada Minggu (12/7) sore waktu setempat. Serangan ini merupakan bagian dari upaya intensif untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran sipil dan komersial di Selat Hormuz, serta dilakukan di bawah arahan langsung Presiden AS Donald Trump.
Serangan terbaru ini, yang dimulai sekitar pukul 17.00 ET, menargetkan fasilitas militer Iran setelah serangkaian eskalasi yang terjadi sejak 7 Juli. “Serangan ini adalah respons tegas terhadap agresi Iran yang terus mengancam keamanan maritim internasional di Selat Hormuz. Kami akan terus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi jalur pelayaran vital ini,” ujar Kolonel David Ramsey, juru bicara CENTCOM, dalam sebuah pernyataan. Ia menambahkan bahwa operasi ini bertujuan untuk “meminta pertanggungjawaban pasukan Iran” atas tindakan mereka.
Dalam sepekan terakhir, telah terjadi tiga putaran serangan. Pada Sabtu (11/7), CENTCOM mengklaim telah menyerang sekitar 140 target militer Iran, termasuk lokasi rudal dan drone, fasilitas penyimpanan amunisi, jaringan komunikasi, dan lokasi pengawasan pantai. Sebagai balasan, Teheran telah menargetkan instalasi militer AS di berbagai negara Timur Tengah, seperti Yordania, Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Oman.
Eskalasi konflik ini dipicu oleh tindakan Iran yang menembaki kapal-kapal dagang di Selat Hormuz dan pengumuman niat mereka untuk menutup jalur air strategis tersebut hingga pemberitahuan lebih lanjut. Washington menilai tindakan Iran tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani kedua belah pihak pada Juni lalu. MoU tersebut bertujuan untuk menghentikan semua permusuhan “segera dan permanen” sebagai landasan negosiasi masa depan.
Namun, Selat Hormuz tetap menjadi titik konflik utama. Jalur maritim ini merupakan kunci penting karena bertanggung jawab atas perlintasan sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair dunia, menjadikannya arena krusial bagi stabilitas energi global dan keamanan regional.










