Makassar, Wartana.com – Polemik terkait kewajiban pemilahan sampah rumah tangga di Kota Makassar mencuat menyusul peluncuran gerakan “Sampahmu Tanggung Jawabmu” oleh Pemerintah Kota. Sebagian warga merasa dibebani, menganggap kebijakan ini sebagai pengalihan tanggung jawab negara setelah membayar retribusi kebersihan. Namun, seorang pemerhati persampahan, Mashud Azikin, menegaskan bahwa pemilahan sampah dari sumber bukan beban ganda, melainkan pembagian tanggung jawab yang rasional untuk mengatasi krisis lingkungan.
Mashud Azikin, yang juga pegiat Ecoenzym, menjelaskan bahwa cara pandang tersebut kerap lahir dari pemahaman yang keliru mengenai retribusi kebersihan. “Retribusi bukanlah tiket pembebas dari tanggung jawab moral terhadap lingkungan,” ujar Mashud pada Rabu (22/07/2026). Ia menekankan bahwa retribusi murni merupakan biaya logistik yang mencakup operasional truk, bahan bakar, hingga pengelolaan fasilitas, bukan izin untuk mencampur semua jenis sampah, mulai dari sisa makanan, baterai bekas, popok sekali pakai, hingga limbah berbahaya, ke dalam satu kantong.
Mashud melanjutkan, kekeliruan sering terjadi karena masyarakat menyamakan pelayanan publik dengan jasa cuci kendaraan, di mana setelah membayar, seluruh urusan dianggap selesai. Padahal, lingkungan tidak bekerja dengan logika kuitansi. “Alam tidak mengenal istilah ‘sudah bayar’. Sungai tetap tercemar ketika limbah rumah tangga bercampur, tanah tetap rusak ketika sampah organik dan anorganik menyatu, dan udara tetap mengandung gas metana dari gunungan sampah yang membusuk tanpa pemilahan,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa krisis sampah selalu dimulai dari rumah, bukan di tempat pembuangan akhir.
Oleh karena itu, memisahkan sampah sejak dari sumber bukanlah pemindahan pekerjaan pemerintah kepada rakyat, melainkan pembagian tanggung jawab yang paling rasional dalam tata kelola lingkungan modern. Di banyak kota maju di dunia, pemilahan sampah telah menjadi bagian dari etika kewargaan. “Masyarakat memilah bukan karena takut didenda, melainkan karena memahami bahwa setiap benda yang dibuang masih memiliki masa depan yang berbeda,” tambah Mashud. Ia mencontohkan, sisa makanan dapat diolah menjadi kompos, sementara plastik dan kardus dapat didaur ulang.










