Satu Bulan Perang AS-Israel vs Iran: Kematian Khamenei dan Guncangan Ekonomi Global

Fakta-fakta Terbaru Sebulan Perang AS-Israel vs Iran
Sebulan sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026, konflik belum menunjukkan tanda mereda. (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)

Jakarta, Wartana.com – Satu bulan sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026, konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda. Serangan militer dan eskalasi balasan telah memicu gejolak global, mulai dari lonjakan harga energi hingga tekanan pasar keuangan, serta perubahan signifikan di ranah politik Iran. Hingga kini, upaya negosiasi untuk gencatan senjata masih menemui jalan buntu, dengan serangan militer terus berlangsung di berbagai wilayah.

Dinamika paling mencolok terjadi di Iran dengan meninggalnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS dan Israel di Teheran. Setelah periode simpang siur, kabar kematiannya dikonfirmasi oleh otoritas Iran, dan sepekan kemudian, Majelis Ahli menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pengganti. Penunjukan ini memberikan kekuasaan penuh kepada pemimpin baru dalam seluruh urusan negara. “Kematian mendadak pemimpin tertinggi Iran telah menciptakan ketidakpastian, namun penunjukan pengganti dengan cepat menunjukkan kemampuan Iran untuk mempertahankan stabilitas internal di tengah krisis,” ujar Dr. Hamid Reza, pengamat politik Timur Tengah dari Universitas Teheran.

Sebagai respons atas serangan awal, Iran menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sepertiga perdagangan minyak dunia. Penutupan ini memicu lonjakan harga minyak global hingga 45 persen dalam waktu singkat, mengakibatkan tekanan inflasi dan krisis bahan bakar meluas ke banyak negara seperti Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka. “Penutupan Selat Hormuz adalah langkah strategis yang sangat efektif untuk menekan pihak lawan, namun juga berisiko tinggi bagi stabilitas ekonomi global,” jelas Prof. Aisha Khan, pakar energi dari Institut Kajian Geopolitik. Bersamaan dengan itu, pasar keuangan global terpukul hebat, dengan nilai kapitalisasi pasar dunia anjlok sekitar US$11,5 triliun akibat aksi jual besar-besaran dan ketidakpastian.

Iran tidak tinggal diam, melancarkan serangan balasan ke puluhan target, termasuk pangkalan militer AS di Timur Tengah dan aset pertahanan Israel. Kelompok sekutu Iran seperti Houthi di Yaman juga turut meluncurkan rudal ke arah Israel, memperluas cakupan konflik hingga ke Laut Merah dan mengganggu jalur pelayaran global. AS dan Israel sendiri dilaporkan mengalami kerugian militer dan ekonomi signifikan. AS kehilangan miliaran dolar akibat kerusakan aset militer, termasuk jet tempur dan kapal induk, sementara Israel menghadapi tekanan biaya perang yang tinggi.

Meskipun digempur intensif selama sebulan, kekuatan militer Iran disebut masih menjadi ancaman. Cadangan rudal dan drone dalam jumlah besar masih dimiliki Iran, dan negara itu masih mampu meluncurkan serangan balistik ke berbagai target, menunjukkan kapasitas militernya belum sepenuhnya melemah. “Meskipun menghadapi serangan gencar, Iran menunjukkan bahwa kapasitas militernya masih utuh dan mampu melancarkan balasan yang signifikan,” ungkap Mayor Jenderal (Purn.) Budi Santoso, analis pertahanan. Situasi ini mengindikasikan bahwa konflik berpotensi berlangsung lebih lama, terutama jika tidak ada kesepakatan gencatan senjata yang berhasil dicapai dalam waktu dekat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *