Jakarta, Wartana.com – Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali goyah setelah Washington melancarkan serangan udara terhadap beberapa target di Iran selatan pada Minggu (28/6/2026). Tindakan ini diklaim sebagai respons balasan atas serangan drone Iran terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz, memicu kekhawatiran akan eskalasi ketegangan di kawasan.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa mereka menyerang “beberapa target di Iran” pada Minggu (28/6). Serangan ini disebut sebagai respons terhadap insiden sebelumnya, di mana drone Iran menargetkan kapal tanker minyak berbendera Panama “Kiku” yang mengangkut sekitar dua juta barel minyak mentah. Militer AS menyatakan bahwa aksi mereka menargetkan “infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, dan kemampuan penyebar ranjau.” Laporan dari media Iran, seperti dikutip AFP, menyebutkan beberapa ledakan terjadi di daerah Sirik dan Qeshm, Iran selatan, menyusul serangan tersebut.
Eskalasi ketegangan ini bukan yang pertama dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, pada Jumat (26/6), Amerika Serikat juga melakukan serangan yang menurut mereka sebagai tanggapan atas serangan Iran lainnya terhadap sebuah kapal bernama Ever Lovely. Sebagai balasan, Iran melalui Garda Revolusi Iran mengumumkan pada Sabtu (27/6) bahwa mereka telah menyerang target AS di Teluk. Garda Revolusi bahkan memperingatkan, “jika agresi diulangi, tanggapan kami akan lebih luas.”
Peningkatan kekerasan dan saling serang ini berakar pada perselisihan terkait kendali atas Selat Hormuz, jalur pelayaran vital dunia. Iran telah berulang kali memperingatkan kapal-kapal untuk tidak memasuki atau meninggalkan Teluk melalui selat tersebut tanpa izin. Namun, kapal-kapal terus berlayar, beberapa di antaranya menggunakan rute yang tidak diizinkan oleh Teheran.
H.A. Hellyer, seorang analis dari lembaga think tank London, Royal United Services Institute, memberikan pandangannya. Ia menyatakan, “Iran kemungkinan akan terus melakukan aktivitas paksaan tingkat rendah yang terukur di dalam dan sekitar Selat Hormuz…. untuk menciptakan tekanan terus-menerus pada pelayaran internasional tanpa memicu konflik yang lebih luas.” Hellyer menambahkan bahwa pemilihan paruh waktu Kongres AS pada November 2026 nanti dapat memberikan Washington “insentif untuk kesepakatan yang lebih cepat.” Sementara bagi Iran, “negosiasi yang berlarut-larut disertai dengan tekanan terkontrol di selat dapat menguntungkan mereka.”









