Jakarta, Wartana.com – Jacob Zuma, mantan Presiden Afrika Selatan, yang sempat menjadi bahan perbincangan publik karena kesulitan berpidato dan menyebutkan angka, akhirnya mengundurkan diri pada tahun 2018 di tengah desakan dan tuduhan korupsi masif yang menyebabkan negaranya terjerat krisis. Selama masa jabatannya, sorotan utama masyarakat Afrika Selatan bukan hanya pada gaya bicaranya, melainkan pada dugaan gaya hidup mewah dan salah urus negara yang berujung pada permasalahan ekonomi serius.
Selama menjabat sebagai Presiden sejak 9 Mei 2009, Zuma beberapa kali terekam kamera kesulitan membaca dan menyebutkan angka atau nominal besar dalam pidatonya. Ia dilaporkan terbata-bata saat menyebutkan jumlah anggota partai Kongres Nasional Afrika (ANC) yang dipimpinnya, serta keliru melafalkan angka miliaran, jutaan, atau ribuan ketika membaca statistik. Insiden-insiden tersebut seringkali menjadi bahan candaan dan video-videonya viral di media sosial.
Namun, di balik penampilan publik tersebut, Jacob Gedleyihlekisa Zuma menghadapi serangkaian tuduhan korupsi, pencucian uang, dan penyalahgunaan kekuasaan. Tekanan untuk mundur datang dari berbagai pihak, termasuk dari partainya sendiri, ANC, yang memuncak dengan pengunduran dirinya pada 14 Februari 2018. Setelah mundur, ia menghadapi 18 dakwaan hukum, meliputi penipuan, pemerasan, dan pencucian uang, terkait dugaan penerimaan suap dalam kesepakatan senjata senilai US$2,5 miliar pada akhir 1999.
Salah satu skandal yang cukup heboh adalah laporan dari lembaga independen tahun 2014 yang menyebut Jacob Zuma menerima ‘keuntungan berlebihan’ dari perbaikan rumah pribadinya di kompleks pedesaan Nkandla, KwaZulu-Natal, yang dilengkapi dengan fasilitas mewah seperti kolam renang, bioskop pribadi, dan kandang ayam besar. Menanggapi semua tuduhan ini, Zuma selalu menampiknya, menyebut agen intelijen asing berada di balik upaya menyingkirkannya dari kekuasaan. “Saya difitnah, dan disebut sebagai raja rakyat yang korup,” ujar Zuma di hadapan komisi yang dipimpin Hakim Ray Zondo. “Saya diejek dan saya tak pernah menanggapi isu itu.”
Meskipun banyak dakwaan korupsi diarahkan kepadanya, Jacob Zuma pada akhirnya dipenjara pada tahun 2021 di usia 79 tahun atas dakwaan menghina pengadilan. Ia divonis 15 bulan penjara karena menolak bersaksi di hadapan komisi yang menyelidiki tuduhan korupsi yang melilitnya. Penyerahan diri Zuma ke penjara memicu kerusuhan dan penjarahan besar-besaran di Afrika Selatan, menjadikannya mantan Presiden Afrika Selatan pertama yang mendekam di dalam penjara.
Persidangan terkait dugaan suap kesepakatan senjata tahun 1999 yang melibatkan Zuma masih terus berjalan. Pengadilan Tinggi KwaZulu-Natal di Pietermaritzburg telah memutuskan bahwa persidangan tersebut harus dilanjutkan dan menjadwalkan dimulainya pada 1 Februari 2027, seperti dikutip media Afsel, SABC News.









