Jakarta, Wartana.com – Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Teguh Santosa, memperingatkan adanya fenomena keruntuhan otoritas kepakaran atau the death of expertise di tengah masifnya penggunaan algoritma media sosial. Fenomena ini merujuk pada kondisi di mana pengetahuan berbasis riset dan kompetensi keilmuan mulai kehilangan bobotnya dibandingkan dengan konten sensasional yang diproduksi oleh individu tanpa latar belakang keahlian yang jelas.
Menurut Teguh, masyarakat saat ini cenderung bergantung pada pasokan data dari pembuat konten yang mengandalkan visual dramatis namun miskin pemahaman substantif. Hal ini diperburuk oleh motif ekonomi melalui monetisasi algoritma yang lebih mengutamakan keterlibatan audiens daripada kebenaran informasi. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu polarisasi dan mengikis ruang dialog rasional dalam masyarakat beradab.
“Fenomena ini bukan lagi sekadar peringatan sosiologis, melainkan kenyataan pahit yang mengepung ruang publik kita sehari-hari. Pengetahuan yang lahir dari riset bertahun-tahun mendadak kehilangan relevansi saat berhadapan dengan narasi dangkal berdurasi singkat,” ujar Teguh Santosa dalam keterangan tertulisnya.
Ia juga menyoroti kerentanan industri pers yang mulai terjebak dalam arus informasi mentah dari media sosial. Tekanan tenggat waktu di era digital sering kali membuat awak redaksi melonggarkan filter verifikasi dan menjadikan konten viral sebagai rujukan utama. Praktik ini dinilai mereduksi nilai jurnalisme investigatif yang seharusnya berpijak pada fakta lapangan dan disiplin verifikasi yang ketat.
Sebagai langkah antisipasi, Teguh mendorong pengelola media siber untuk memperkuat kembali kurasi narasumber dan metodologi pengumpulan fakta. Ia menekankan bahwa wartawan harus tetap menjadi penyaring kebenaran yang kritis agar tidak didikte oleh algoritma platform digital. Pengetahuan dari para ahli dan akademisi independen harus dikembalikan ke posisi terhormat dalam setiap pemberitaan demi menjaga marwah pers.
“Redaksi media harus berani menolak godaan jalan pintas yang hanya menghasilkan jurnalisme klik. Menjadikan celoteh pembuat konten sebagai basis berita tanpa riset mendalam adalah bentuk pengkhianatan terhadap mandat intelektual pers,” tegasnya menutup pernyataan tersebut.









