Dampak nyata program ini dapat diukur secara ilmiah. PT Vale telah menanam lebih dari empat juta pohon yang didominasi spesies endemik Sulawesi seperti Dengen, Eboni, dan Tembeuwa.
Mereka juga berhasil merehabilitasi sepuluh ribu hektare lahan kritis di Daerah Aliran Sungai (DAS) yang secara signifikan meningkatkan ketahanan air dan mengurangi erosi.
Indeks Keanekaragaman Hayati (Shannon-Wiener Index) untuk flora dan fauna telah melonjak ke angka yang menandakan ekosistem yang sehat dan stabil. Tidak kalah membanggakan, program penangkaran Rusa Timor yang dijalankan bersama BKSDA telah membiakkan 55 individu, di mana sebagian telah dikembalikan dengan sukses ke habitat alaminya.
“Prinsip kami jelas, keberlanjutan bukanlah sebuah lomba lari estafet perorangan, melainkan sebuah laga marathon bersama,” tegas Budiawansyah lebih lanjut.
Ia menekankan bahwa kunci kesuksesan program ini terletak pada sinergi segitiga emas antara sains dari akademisi, dukungan kebijakan dari pemerintah, dan aksi nyata dari masyarakat.
Koperasi petani seperti KSU Mitra Masyarakat Alam (MMA) menjadi ujung tombak di lapangan, melibatkan lebih dari 300 warga lokal yang kini bangga menjadi penjaga dan pelaku aktif konservasi.
Dengan menyabet dua penghargaan bergengsi, Lestari Awards 2025 di tingkat nasional dan kini Asia ESG Positive Impact Awards 2025 di tingkat regional, PT Vale Indonesia tidak sekadar mencatatkan namanya dalam daftar pemenang.
Perusahaan ini mengukuhkan dirinya sebagai pelopor dan bukti hidup bahwa industri ekstraktif dapat bertransformasi menjadi pemulih lanskap dan penjaga keanekaragaman hayati.
Sebuah warisan hijau yang berharga untuk Indonesia dan dunia lahir dari Luwu Timur, menginspirasi sebuah paradigma baru di mana alam dan industri tidak hanya berdamai, tetapi saling menguatkan. []











