Mural Sejarah Maritim SMAN 8 Makassar: Cicu Dukung Inovasi ‘Museum Terbuka’ untuk Edukasi

Mural Sejarah Maritim SMAN 8 Makassar: Cicu Dukung Inovasi 'Museum Terbuka' untuk Edukasi

Makassar, Wartana.com – Ketua DPRD Sulawesi Selatan, drg. Andi Rachmatika Dewi, mendukung penuh gagasan “museum terbuka” melalui mural sejarah maritim di tembok SMAN 8 Makassar. Inisiatif ini didorong untuk memperkuat literasi dan edukasi sejarah bahari bagi generasi muda, khususnya di wilayah Tallo.

Dukungan tersebut disampaikan oleh politisi yang akrab disapa Cicu ini usai menghadiri kegiatan pengawasan APBD 2026 pada Ahad malam, 24 Mei 2026, di Jalan Baji Iman, Kelurahan Bongayya, Kecamatan Tamalate. Gagasan pembuatan mural ini dicetuskan oleh Natsir, seorang pensiunan guru yang prihatin terhadap minimnya pemahaman sejarah maritim di kalangan pelajar. Mural ini diharapkan dapat menyajikan visualisasi alat transportasi laut masa lalu dan jejak pelayaran masyarakat Sulawesi Selatan.

Andi Rachmatika Dewi mengapresiasi tinggi inisiatif tersebut. “Ini sesuatu hal yang sangat bagus sekali dan perlu kita apresiasi. Ada masyarakat yang sadar wisata dan ingin membuat mural di salah satu aset pemerintah, khususnya di tembok SMA 8,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa proyek ini tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga edukatif dan mampu menumbuhkan rasa cinta terhadap sejarah serta budaya daerah sejak dini.

Proyek mural ini direncanakan melibatkan kolaborasi antara seniman, komunitas kreatif, dan siswa SMAN 8 Makassar. Para seniman dan komunitas akan bertanggung jawab pada pembuatan sketsa, sementara para pelajar akan berpartisipasi dalam proses pewarnaan dan penggambaran. “Komunitas ini akan mengajak anak-anak SMA untuk ikut serta menggambar di situ. Jadi, komunitas yang membuat sketsanya, lalu anak-anak akan ikut berpartisipasi mewarnai dan menggambar. Ini kolaborasi yang sangat bagus,” jelas Cicu.

Sementara itu, Natsir mengungkapkan bahwa ide mural sejarah ini lahir dari keprihatinan atas minimnya perhatian terhadap sejarah bahari lokal, mengingat kuatnya rekam jejak maritim Kerajaan Gowa-Tallo. “Hal-hal seperti ini kan belum pernah dijamah masyarakat umum. Dalam artian, kepedulian terhadap kesejarahan itu susah dan sangat jarang ditemukan. Itu yang mendorong saya supaya kesejarahan, seni, dan budaya di sini tetap diabadikan,” kata Natsir. Ia berharap mural ini tidak hanya mempercantik area pendidikan di Tallo, tetapi juga menjadi ruang belajar terbuka yang inspiratif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *