Terungkap! Mayoritas Rudal Iran Sasar Negara Arab, Bukan Israel-AS: Apa Misi Teheran?

Kenapa 83 Persen Rudal Iran Malah Sasar Negara Arab Bukan Israel-AS?
Perang antara AS-Israel vs Iran berlangsung hampir sebulan dan belum menunjukkan tanda-tanda bakal mereda tetapi negara Arab yang kena getahnya. (Foto: AFP/-)

Jakarta, Wartana.com – Sebuah laporan terbaru dari lembaga berbasis di Washington D.C., Stimson Center, mengungkapkan fakta mengejutkan terkait konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Sejak perang pecah pada 28 Februari lalu, mayoritas serangan rudal dan drone Iran, mencapai 83 persen, justru menargetkan negara-negara Arab di Timur Tengah, terutama sekutu AS, daripada Israel atau AS sendiri.

Data tersebut merinci bahwa negara-negara Arab, khususnya anggota Dewan Kerja Sama Negara Teluk (GCC), telah menjadi sasaran 4.391 serangan drone dan rudal Iran. Meskipun Teheran mengklaim target utamanya adalah situs militer dan aset AS di wilayah tersebut, negara-negara penampung pangkalan militer AS ini mau tidak mau ikut terkena imbasnya. Ironisnya, Israel, yang disebut sebagai pemicu awal serangan ke Iran, hanya menjadi target sekitar 930 rudal dan drone, atau sekitar 17 persen dari total serangan Iran.

Uni Emirat Arab (UEA) tercatat sebagai negara Arab yang paling banyak diserang, dengan total 2.156 serangan, mengakibatkan 11 korban jiwa, termasuk dua orang yang meninggal pada Kamis (26/3) setelah mobil mereka tertimpa puing rudal. Arab Saudi juga menghadapi 723 serangan drone dan rudal, dengan dua korban jiwa dan beberapa orang lainnya luka-luka. Kendati sebagian besar rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara negara-negara GCC, pola serangan yang tidak proporsional ini telah menimbulkan kekhawatiran dan amarah di kalangan negara-negara Arab.

Chris Doyle, Direktur Council for Arab-British Understanding, menyatakan bahwa klaim Iran yang hanya menargetkan lokasi terkait pasukan AS “tidak dapat dipercaya” mengingat banyaknya serangan terhadap infrastruktur sipil di negara-negara tersebut. Menurutnya, tujuan kepemimpinan Iran adalah bertahan dalam konflik eksistensial ini dengan membuat AS merasa tidak nyaman. “Akibatnya, Iran membuka front militer yang sangat luas untuk memaksa AS dan sekutunya mempertahankan berbagai target di banyak negara, kini mencapai 12 negara, serta menimbulkan biaya ekonomi atas konflik ini,” jelas Doyle, menambahkan bahwa strategi ini bertujuan agar AS mencari jalan keluar lebih cepat dan kembali ke meja perundingan.

Caroline Rose dari New Lines Institute menambahkan bahwa strategi Teheran bertujuan “menunjukkan kemampuannya untuk dengan cepat menggoyahkan keamanan di seluruh kawasan.” Rose berasumsi bahwa Iran berharap negara-negara GCC akan menekan AS agar menghentikan serangan dan menjauh dari Israel. Namun, ia memperingatkan bahwa strategi ini justru bisa berbalik merugikan. “Negara seperti Arab Saudi malah membuka kembali kebijakan yang memungkinkan pasukan AS beroperasi dari wilayahnya, dan beberapa bahkan mempertimbangkan untuk terlibat dalam perang,” katanya, mengindikasikan potensi peningkatan eskalasi di tengah ketegangan regional. Doyle juga menilai bahwa UEA menjadi target utama di antara negara-negara Arab karena kedekatannya dengan Israel, yang dinilai Iran sebagai target utama, sementara terhadap negara Teluk lain, Iran tampak lebih berhati-hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *