Jakarta, Wartana.com – Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran di wilayah selatan, khususnya sekitar Selat Hormuz, pada Selasa (8/7/2026). Tindakan ini ditegaskan oleh Pusat Komando Militer AS (US Centcom) sebagai respons langsung atas dugaan serangan Iran terhadap tiga kapal komersial sekutu AS di perairan strategis tersebut, memicu peningkatan ketegangan regional di tengah prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
US Centcom menyatakan serangan AS menargetkan sekitar 80 fasilitas militer penting di Iran, termasuk di Pulau Kharg dan Pulau Qashem yang berada di Selat Hormuz. “Serangan Amerika Serikat merupakan respons atas agresi Iran terhadap tiga kapal komersial yang sedang melintasi Selat Hormuz. Agresi yang ditunjukkan Iran sama sekali tidak dapat dibenarkan, berbahaya, dan merupakan pelanggaran yang jelas terhadap gencatan senjata,” demikian pernyataan resmi CENTCOM.
Sebelumnya, Arab Saudi menuduh Iran bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal tanker minyak milik Saudi dan Qatar yang sedang transit di dekat Selat Hormuz. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyebut insiden tersebut sebagai “serangan terhadap keamanan navigasi internasional dan pasokan energi global.” Namun, hingga berita ini diturunkan, tidak ada pernyataan resmi dari Iran maupun Korps Garda Revolusi Iran terkait insiden serangan terhadap kapal-kapal tanker di Teluk Persia. Sementara itu, stasiun penyiaran negara Iran, IRIB, mengklaim bahwa kapal tanker minyak Qatar menjadi sasaran setelah mengabaikan peringatan berulang kali dari pasukan Iran saat melintasi Selat Hormuz dengan dukungan Angkatan Laut AS.
Waktu serangan AS yang cepat tanpa jeda untuk memastikan pernyataan resmi dari Teheran menimbulkan pertanyaan dari berbagai pihak, terlebih Iran masih dalam suasana duka penyelenggaraan prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei. Presiden AS Donald Trump secara tegas menyampaikan kekesalannya dan mengancam pembatalan nota kesepahaman perdamaian dengan Iran. “Tindakan AS ini bisa diinterpretasikan sebagai upaya untuk menunjukkan kekuatan dan respons cepat, namun juga berisiko memperkeruh suasana yang sudah tegang. Menyerang saat negara lain sedang berduka bisa memicu sentimen negatif yang lebih luas,” ujar Dr. Aisha Rahman, seorang pengamat hubungan internasional dari Universitas Timur Tengah, mengomentari situasi tersebut.
Berbicara di pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi NATO di Turki, Presiden Trump menyebut Iran sebagai “pemain kotor” yang menargetkan kapal-kapal komersial di Selat Hormuz dan melanggar gencatan senjata. Ia juga melabeli Iran sebagai “bajingan” dan “orang-orang jahat dan sakit” yang berpotensi meruntuhkan kesepakatan awal perdamaian. Eskalasi ini memperlihatkan rapuhnya gencatan senjata yang ada dan potensi konflik yang lebih luas di salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia.










