Jakarta, Wartana.com – Iran secara tegas mengancam akan memperluas serangannya ke fasilitas energi milik negara-negara sekutu Amerika Serikat (AS) apabila Washington kembali melancarkan aksi militer terhadap wilayahnya. Ancaman ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan energi global.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, pada Sabtu (1/8) menegaskan bahwa Teheran akan memberikan respons yang tegas dan proporsional terhadap setiap bentuk agresi baru dari AS. Pernyataan ini disampaikan dalam percakapan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir, serta Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan. “Setiap agresi baru terhadap Iran akan dibalas secara proporsional dan tidak akan ragu menargetkan kepentingan sekutu-sekutu agresor,” ujar Araqchi, menekankan keseriusan Teheran, seperti dilansir Reuters.
Ancaman ini muncul hanya beberapa jam setelah militer Kuwait mengumumkan keberhasilan menghancurkan sejumlah drone yang diduga diluncurkan dari Iran, mengarah ke fasilitas vital di negara tersebut. Serpihan drone dilaporkan sempat mengenai fasilitas pemerintah di Kuwait utara serta properti sebuah perusahaan di Pulau Bubiyan, namun tidak menimbulkan korban jiwa.
Media Iran yang berafiliasi dengan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Nournews, bahkan memperingatkan bahwa jika AS menyerang infrastruktur energi Iran, Teheran akan membalas dengan menyerang ladang minyak di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), serta ladang gas di Qatar dan Israel. Menurut Nournews, fasilitas-fasilitas energi tersebut berpotensi “dibakar hingga menjadi abu.” Ketegangan ini bermula dari serangan AS terhadap Iran pada 28 Februari, yang menurut Presiden AS Donald Trump bertujuan utama mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Meski demikian, Trump juga menyatakan bahwa jalur diplomasi masih terbuka, namun ia mengaku mulai kehilangan kepercayaan dan kembali mengancam akan melancarkan serangan.
Meningkatnya ancaman terhadap fasilitas energi ini telah memperbesar kekhawatiran pasar global. Konflik di Timur Tengah telah mendorong harga minyak dunia bertahan di level tinggi, dengan kontrak minyak mentah Brent melonjak sekitar 24 persen sepanjang Juli. Para analis memperkirakan tren kenaikan harga ini akan berlanjut hingga akhir tahun. Selain itu, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb, dua rute terpenting bagi distribusi minyak dunia, masih dibayangi risiko keamanan. Insiden terhadap kapal tanker di perairan Oman dan ancaman dari kelompok Houthi di Yaman semakin memperkuat kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi global jika eskalasi konflik terus memburuk.









