Makassar Jagokan Inovasi Lontara+ dan SALAMA di Penilaian IGA Kemendagri 2026

Makassar Jagokan Inovasi Lontara+ dan SALAMA di Penilaian IGA Kemendagri 2026

MAKASSAR, Wartana.com — Pemerintah Kota Makassar memperkuat posisinya dalam ajang Innovative Government Award (IGA) 2026 dengan mengandalkan dua inovasi unggulan, yaitu Lontara+ dan SALAMA. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, memaparkan langsung kedua program tersebut dalam tahapan penilaian presentasi kepala daerah yang diselenggarakan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI secara daring, Selasa (3/11/2026).

Inovasi pertama, Lontara+ (Layanan Online Terintegrasi Warga Makassar), merupakan super-apps yang dirancang untuk mengintegrasikan sekitar 300 aplikasi pelayanan publik yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri. Munafri menjelaskan bahwa platform ini hadir untuk menjawab tantangan birokrasi, mulai dari ketidakefisienan data hingga lambatnya respons terhadap aduan masyarakat. Melalui Lontara+, seluruh layanan OPD kini terpusat dalam satu genggaman digital.

“Inovasi ini kami terapkan di Pemkot Makassar untuk mendorong tata kelola pemerintahan yang lebih efektif berbasis digital. Kami mengubah ratusan aplikasi yang terfragmentasi agar terintegrasi dan memberikan kemudahan akses bagi seluruh lapisan masyarakat,” ujar Munafri saat memaparkan materi dari Balai Kota Makassar.

Hingga saat ini, Lontara+ telah mencatat lebih dari 76 ribu pengguna dengan tingkat penyelesaian pengaduan mencapai 91,7 persen dari total 20 ribu laporan yang masuk. Keberhasilan ini didukung oleh regulasi kuat, termasuk Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 9 Tahun 2023 tentang Inovasi Daerah, guna memastikan keberlanjutan program di masa depan.

Selain transformasi digital, Pemkot Makassar juga menjagokan inovasi non-digital bernama SALAMA (Sahabat Anak Lewat Afirmasi tentang Aman Bencana). Program yang diinisiasi oleh BPBD Kota Makassar ini fokus pada literasi kebencanaan bagi anak usia dini. Keunikannya terletak pada penggunaan metode Hypno-Shield, sebuah pendekatan afirmasi positif berbasis psikologi untuk membangun mentalitas tangguh pada anak agar tidak panik saat menghadapi situasi darurat.

“Anak-anak harus dibekali pengetahuan sejak dini. Melalui SALAMA, mereka tidak hanya tahu langkah penyelamatan secara teknis, tetapi juga memiliki kesiapan psikologis. Saat ini, tingkat pemahaman siswa terhadap kesiapsiagaan bencana meningkat signifikan dari 45 persen menjadi 80 persen,” tambah Munafri. Ia berharap kedua inovasi ini dapat terus memberikan dampak nyata dan menjadi standar baru pelayanan publik yang aplikatif dan informatif bagi warga Makassar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *