Makassar, Wartana.com – Sosok legendaris yang menjadi motor penggerak di balik kejayaan musik cadas Indonesia, Log Zhelebour, kembali angkat bicara mengenai dinamika industri musik saat ini. Pria bernama asli Ong Oen Log yang dikenal sebagai produser rekaman, promotor konser ikonik, serta pionir Festival Musik Rock Se-Indonesia ini, menyoroti fenomena meredupnya panggung rock di tengah dominasi genre pop dan hip-hop yang kian menguat di tahun 2026.
Pria kelahiran Surabaya, 16 Maret 1959, ini mengungkapkan kekhawatirannya terhadap pesatnya perkembangan platform digital. Menurut Log, ekosistem digital saat ini belum memberikan ruang kompetisi yang adil bagi para musisi maupun band rock pendatang baru untuk bersaing dengan nama-nama besar yang sudah memiliki basis penggemar mapan sejak lama. Suami dari Novianda Antasari ini menggarisbawahi bahwa algoritma platform streaming cenderung memprioritaskan lagu-lagu lama yang telah mengantongi jutaan stream, sehingga talenta muda di genre rock harus bekerja berkali-kali lipat lebih keras agar karya orisinal mereka bisa dikenal luas.
“Setiap hari ada ratusan ribu lagu baru diunggah ke platform digital. Namun, paling-paling hanya satu atau dua karya yang berhasil meledak ke permukaan, itu pun dampaknya tidak terlalu signifikan. Apalagi untuk genre rock atau metal, celah dan peluangnya jauh lebih sempit,” tutur Log dalam perbincangan hangat di Carita Cafe Hotel Claro, Makassar, yang berlangsung sejak Jumat malam (30/10/2026) hingga Sabtu dini hari (31/10/2026).
Log menjelaskan bahwa selera publik saat ini sangat dipengaruhi oleh algoritma yang lebih memihak pada genre populer. Akibatnya, ekosistem musik rock kini seolah terkurung dalam lingkaran penikmat setia dari generasi lama, yang memicu tantangan besar bagi regenerasi band-band rock di masa depan. Kondisi ini dipandang sebagai hambatan serius bagi grup musik baru yang ingin meniti karier dan membangun popularitas melalui jalur internet.
Selain tantangan algoritma, Log Zhelebour juga memberikan sorotan tajam terhadap masifnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) generatif dalam produksi musik global. Ia menilai kehadiran AI memungkinkan siapa pun untuk menciptakan dan merilis lagu tanpa perlu dasar keahlian musik yang mumpuni. Meski instan, hal ini dianggap sebagai ancaman nyata bagi perlindungan hak cipta dan integritas industri musik, karena AI bekerja dengan mengekstrak cetak biru dari karya-karya asli yang sudah ada.
“Fenomena ini menimbulkan komplikasi pelik dalam tata kelola bisnis musik. Banyak pihak merilis lagu berbasis AI yang sebenarnya diproduksi dengan mengambil serta meramu identitas karya orang lain. Praktik semacam ini sangat merugikan hak-hak intelektual penyanyi dan musisi sejati,” tegas Log Zhelebour dengan nada prihatin.
Log mendukung langkah label rekaman raksasa dunia yang menolak komersialisasi musik berbasis AI. Baginya, produk digital instan tersebut tidak bisa disandingkan dengan karya manusia asli yang melibatkan proses pemikiran, olah vokal, dan teknik instrumen secara nyata. Ia memprediksi akan ada gelombang tuntutan hukum agar platform streaming melakukan takedown terhadap karya-karya berbasis AI demi menjaga ekosistem ekonomi para pencipta lagu orisinal.
Sebagai bentuk dedikasi, Log membocorkan rencana besar untuk menggelar ajang pencarian bakat musik rock spektakuler yang ia sebut sebagai mahakarya terakhirnya. Kompetisi ini dirancang untuk mewadahi musisi internasional dan lokal dengan format yang diadaptasi dari kemajuan zaman, yakni melalui live streaming interaktif di platform YouTube dan kanal digital lainnya.
“Dewan juri profesional akan membedah dan menilai aspek komposisi serta kualitas teknik penampilan para peserta. Namun, untuk menentukan karya atau grup band mana yang paling memikat hati publik, sepenuhnya kami serahkan pada penilaian masyarakat melalui indikator jumlah penonton serta daya tarik angka view,” beber Log.
Log menaruh harapan besar bahwa formula baru ini akan menjadi pintu pembuka bagi popularitas band rock lokal di panggung yang lebih luas. Ia juga mengisyaratkan bahwa proyek besar ini kemungkinan akan menjadi penutup dari perjalanan panjangnya sebagai promotor nasional. Log mengakui bahwa keputusannya untuk menepi beberapa waktu lalu adalah bentuk penyesuaian diri terhadap transisi era digital, sehingga kompetisi live streaming ini memiliki makna emosional yang mendalam sebagai bentuk pengabdian terakhirnya.
Di sela kunjungannya di Makassar, Log juga bernostalgia dengan sahabat lamanya, James Wehantouw. Wartawan senior ini merupakan mitra setia Log sejak tahun 1985 dalam mengelola tur konser di wilayah Sulawesi. James mengenang bagaimana Log bertransformasi dari seorang DJ diskotik di akhir 1970-an menjadi raksasa industri musik nasional melalui Festival Musik Rock Se-Indonesia yang telah melahirkan legenda-legenda besar tanah air.
Melalui bendera Bieffe Enterprises, James telah mendampingi Log dalam mengorbitkan deretan bintang seperti Nicky Astria, Nike Ardilla, Mel Shandy, Elpamas, Power Metal, Boomerang, hingga Jamrud. Tak hanya itu, panggung spektakuler yang digelar Log juga pernah menghadirkan band dunia seperti Sepultura, Mr. Big, White Lion, Helloween, hingga Skid Row. Pengaruh Log Zhelebour mencakup ekosistem bisnis yang lengkap mulai dari label Logiss Records, Log Sound, hingga Log Artist Management yang telah membentuk wajah musik rock di Indonesia.









