MAUMERE – GEMPA bumi magnitudo (M) 7,7 Flores yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026), masih membekas pada Yohanis Riba (75), warga Desa Nitunhlea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), meski menjadi salah satu penyintas yang selamat.
Keselamatan tersebut harus dibayar dengan luka akibat rumahnya yang roboh diterjang guncangan kuat. Kedua kaki Yohanis tertimpa material bangunan saat ia berusaha menyelamatkan diri.
Sanak famili dan kerabat yang berada di sekitar lokasi segera memberikan pertolongan. Yohanis kemudian dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.
Selama beberapa hari, ia menjalani perawatan sambil menunggu kondisi kedua kakinya membaik, tapi ternyata, setelah dilakukan pemantauan oleh tenaga medis, kondisi Yohanis memerlukan penanganan lebih lanjut.
“Mempertimbangkan luka dan memar yang dialaminya serta keterbatasan fasilitas kesehatan di wilayah kepulauan, Yohanis kemudian dirujuk untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif di fasilitas kesehatan yang memiliki dukungan medis lebih memadai,” ungkap Berton SP Panjaitan, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, dalam keterangan tertulisnya, Senin (24/8/2026).
Proses evakuasi pun dilakukan dengan mengedepankan kecepatan dan keselamatan pasien. Pada Minggu (23/8/2026), Yohanis dijemput dari Pulau Palue untuk kemudian dibawa menuju Rumah Sakit TC Hillers, Maumere.
“Evakuasi dilakukan menggunakan helikopter Polri yang disiagakan di Pos Pendamping Nasional (Pospenas) BNPB di Bandara Frans Seda, Maumere,” lanjut Berton.
Evakuasi Yohanis menjadi gambaran bagaimana penanganan darurat bencana terus dilakukan secara kolaboratif, termasuk untuk menjangkau masyarakat yang berada di wilayah kepulauan dan memiliki keterbatasan akses transportasi.
BNPB bersama TNI, Polri, tenaga medis, relawan, serta unsur otoritas bandara bersinergi memastikan proses pemindahan pasien dapat berlangsung dengan aman dan cepat.
Setibanya di Maumere, Yohanis selanjutnya mendapatkan penanganan di RSUD TC Hillers. Upaya ini dilakukan agar ia memperoleh pemeriksaan dan perawatan yang lebih optimal, sekaligus memperbesar peluang pemulihan kondisi kedua kakinya.
Di tengah proses penanganan darurat pascagempa, kisah Yohanis juga menunjukkan bahwa setiap penyintas memiliki kebutuhan yang berbeda dan harus mendapatkan perhatian sesuai kondisi masing-masing.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah terpencil dan kepulauan, dukungan akses kesehatan menjadi bagian penting dalam memastikan tidak ada penyintas yang tertinggal dalam proses penanganan bencana.
Kolaborasi lintas sektor akan terus diperkuat untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat ditangani secara cepat, tepat, dan manusiawi. Semangat gotong royong menjadi kekuatan bersama untuk membantu para penyintas melewati masa sulit dan secara bertahap kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik. []











