Kilas Dunia: Nepal Diterjang Banjir Mematikan, Eks PM Malaysia Didakwa Korupsi, dan Klaim Kontroversial Trump

Penyebab Banjir Bandang Nepal sampai Eks PM Malaysia Didakwa
Ratusan orang tewas akibat banjir bandang Nepal yang dipicu longsoran gletser Himalaya pada Rabu (26/8). Foto: REUTERS/Navesh Chitrakar

Jakarta, Wartana.com – Berbagai peristiwa penting mengisi agenda internasional pada Jumat (28/8), mulai dari bencana banjir bandang mematikan di Nepal yang menewaskan ratusan orang, dakwaan terhadap mantan Perdana Menteri Malaysia terkait laporan kekayaan, hingga pernyataan kontroversial Donald Trump mengenai kelangsungan hidup Ayatollah Mojtaba Khamenei. Ketiga isu ini menjadi sorotan utama yang merangkum dinamika global.

Musibah banjir bandang yang menerjang wilayah Nepal sejak Rabu (26/8) telah menyebabkan lebih dari 150 korban jiwa dan 384 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Bencana dahsyat ini diperkirakan dipicu oleh luruhnya sebagian gletser di Pegunungan Himalaya. Para ahli geofisika mengindikasikan adanya “peristiwa geofisika masif” di pegunungan tersebut yang menjadi penyebab utama banjir bandang berskala besar ini.

Pakar geofisika dari Earth Observatory Universitas Columbia, Goran Ekstrom, menjelaskan bahwa tanah longsor di celah pegunungan pada siang hari telah meluruhkan gletser besar atau sebagian darinya. “Bebatuan besar meluncur turun dari pegunungan sehingga menghasilkan energi luar biasa besar dan memicu peningkatan suhu yang mencairkan gletser,” ujar Ekstrom. Fenomena ini dipercaya menjadi alasan di balik besarnya volume air yang mengalir sangat deras ke kaki gunung.

Di sisi lain, mantan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Ismail Sabri Yaakob, secara resmi didakwa di bawah Undang-Undang Anti-Korupsi Malaysia. Dakwaan ini menyusul kegagalannya melaporkan harta kekayaan sesuai ketentuan Section 36(1)(a) of the Malaysian Anti-Corruption Commission (MACC) Act 2009 (Act 694) pada 7 Januari 2025. Ismail Sabri dituduh gagal mendeklarasikan aset senilai 14,7 juta ringgit (sekitar Rp64,7 miliar) dalam berbagai mata uang asing, termasuk dolar Singapura, dolar Amerika, euro, yen Jepang, serta emas batang.

Sementara itu, mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali membuat pernyataan yang menarik perhatian. Trump menyatakan keyakinannya bahwa Ayatollah Mojtaba Khamenei masih hidup, meskipun ia beberapa kali sebelumnya meyakini Pemimpin Tertinggi Iran itu telah tewas. Dalam sebuah wawancara dengan penyiar radio konservatif Glenn Beck, Trump menegaskan, “Menurut saya dia tidak tewas. Dia terluka sangat parah. Sisi kiri tubuhnya, lengan, kaki, semuanya. Dia terluka sangat parah. Namun, menurut saya dia tidak tewas.” Pernyataan ini muncul setelah serangan udara AS dan Israel yang pada 28 Februari menewaskan ayah Mojtaba, Ayatollah Ali Khamenei.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *