Jakarta, Wartana.com – Ekonomi Indonesia menunjukkan stabilitas dan pertumbuhan yang solid selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, di tengah guncangan ekonomi global yang signifikan.
Data terbaru per Oktober 2026 menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen, merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir untuk periode yang sama, dan masih mampu mencatat pertumbuhan 5,29 persen pada triwulan II 2026. Capaian ini terjadi saat ekonomi global hanya tumbuh sekitar 3 persen, diiringi kenaikan suku bunga Amerika Serikat dan harga minyak yang tinggi.
“Meskipun tantangan global terus menekan, capaian pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen serta perbaikan indikator sosial seperti penurunan angka kemiskinan dan pengangguran menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia tetap terjaga,” ujar Mursalim Nohong, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin Makassar, pada Rabu (21/10/2026).
Efek pertumbuhan ekonomi tersebut juga tercermin pada perbaikan indikator sosial. Jumlah penduduk miskin turun menjadi 8,07 persen pada Maret 2026, atau 22,9 juta jiwa, lebih rendah 0,40 poin persentase dibanding setahun sebelumnya. Tingkat pengangguran terbuka juga menurun ke 4,65 persen pada Mei 2026, dengan penciptaan sekitar 522 ribu tambahan pekerja dalam tiga bulan sejak Februari 2026.
Dari sisi keuangan negara, pendapatan negara hingga akhir September 2026 mencapai Rp2.341,5 triliun atau 74,2 persen dari target, dengan penerimaan pajak tumbuh 24,1 persen menjadi Rp1.607,6 triliun. Defisit anggaran tercatat Rp319 triliun atau 1,24 persen PDB, dengan proyeksi defisit akhir tahun di bawah batas 3 persen, yakni 2,85 persen PDB. Bank Indonesia turut berperan menjaga stabilitas dengan menaikkan suku bunga acuan secara terukur, sementara inflasi inti turun ke 2,84 persen pada September, dan inflasi umum 3,28 persen masih dalam rentang sasaran.
Terkait sorotan kredibilitas kebijakan dari lembaga pemeringkat dan MSCI, pemerintah menegaskan kritik tersebut perlu dibaca secara proporsional. Moody’s dan Fitch mempertahankan peringkat Indonesia pada level layak investasi, sementara S&P pada Juli 2026 justru mempertahankan peringkat BBB dengan outlook stabil. Otoritas telah bergerak menangani persoalan spesifik di pasar modal yang diusulkan MSCI, seperti struktur kepemilikan saham dan tata kelola bursa, dengan target perbaikan hingga April 2027.
Selain upaya stabilisasi jangka pendek, pemerintah juga berfokus pada penguatan fondasi ekonomi jangka panjang melalui pembentukan Danantara, sebuah lembaga yang akan mengonsolidasikan lebih dari seribu perusahaan negara ke dalam satu pengelola investasi, sebuah langkah strategis untuk efisiensi dan peningkatan nilai aset negara.









